PENDEKATAN MODAL MANUSIA DAN INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sebuah upaya yang dapat mempercepat pengembangan SDM untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor sangat penting dalam kehidupan manusia masa akan datang, sebab pendidikan merupakan suatu proses pembentukan manusia untuk menumbuh kembangkan potensi yang ada. Sangat jelas dinyatakan dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Pasal 3, fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah penyelenggaraan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri.

Pengembangan Sumberdaya manusia melalui pendidikan sebagai sebuah investasi membutuhkan dana atau pembiayaan yang bersifat jangka panjang. Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa pembicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan. Johns dan Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi dan negara modern. Dikemukakan hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan a major contributor terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan. Tulisan ini akan membahas Pendekatan modal manusia dalam pengaturan dan pembiayaan pendidikan serta investasi sumberdaya daya manusia melalui pendidikan.

BAB II

PENDEKATAN MODAL MANUSIA DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

  1. Kajian Teori

Teori ini menyatakan pendidikan sebagai saham pribadi dari modal manusia yang normalnya diperoleh selama masa muda. Pencapaian pendidikan memiliki arti sebagai penerimaan investasi. Pencapaian pendidikan merupakan komitmen sumber-sumber pribadi yang meliputi nilai masa muda dan masa tua yang mengabdikan diri kepada sekolah dan pendidikan anak-anak mereka. Imbalan dari investasi pendidikan adalah imbalan pribadi, menjadi subyek dari resiko dan ketidakpastian yang ditanggung juga secara pribadi. Teori modal manusia berhubungan dengan ilmu ekonomi tentang alokasi waktu dan pengaruh mendalam dari pendidikan dalam waktu, pendapatan, konsumsi, pernikahan, kesehatan, kepercayaan diri, kemampuan dan kepuasan personal. Teori ini juga bermanfaat dalam menentukan efek pendidikan pada distribusi pendapatan seseorang dan jaringan antar generasi (Tomes 1981).

Teori modal manusia bukan tentang skala optimal sekolah dan sistemnya, bukan juga tentang distribusi pendapatan seseorang yang layak dalam pendidikan. Juga bukan sebagai solusi permasalahan insentif guru yang kecil. Teori ini tidak mengarah pada studi efek buruk penyangkalan otoritas orang tua dalam keputusan-keputusan sekolah yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas ketersediaan sekolah bagi anak-anak mereka.

  1. Sekilas Pandang tentang Keuntungan Pendidikan

Produktifitas yang dinamis membuat tingkat keuntungan pendidikan cenderung melebihi tingkat keuntungan modal fisik. Sebagai jawaban dari perbedaan keuntungan ini pertumbuhan persediaan modal manusia yang sebagian besar adalah pendidikan lebih tinggi dari pertumbuhan modal fisik. Saham pemasukan properti menurun  dari sekitar 45 menjadi 20 persen sedangkan buruh yang meliputi semua pelayanan di sektor pasar, meningkat dari 55 menjadi 80 persen. Ketidaksamaan dalam distribusi pendapatan perorangan menurun seperti halnya konsekuensi perubahan di faktor asset.

Seluruh perolehan tersebut menghapus pendidikan kontribusi non pasar di produksi rumah tangga, pengasuhan anak, pemerolehan kesehatan anggota  keluarga, pembelian barang konsumsi dan jasa, penghitungan kualitas pendidikan yang diterima anak, dan yang terpenting adalah penentuan kompetensi sosial dan kualitas gaya hidup. Tak ada satupun dari nilai non-pasar di atas masuk dalam tingkat moneter keuntungan pendidikan yang berasal dari sektor aktifitas pasar.

  1. Sekolah yang Semakin Efisien adalah Sarana Utama dalam Memperoleh Equitas dan Pembelajaran Anak

Permasalahan yang muncul di sekolah – sekolah negeri adalah ketidakefisienan. Banyak sistem sekolah di kota besar memiliki performa yang buruk. Para guru mendapatkan insentif yang tidak mencukupi. Sekolah untuk anak tidak memadai. Reformasi pendidikan sebagai mandat dari negara ditegakkan dengan menempatkan anak dalam bahaya. Orang tua mengetahui kalau kualitas sekolah anak mereka buruk tapi mereka hanya dapat berbuat sedikit kecuali jika mereka berpindah tempat tinggal atau beralih ke sekolah swasta dan membayar pajak serta iuran pendidikan.

Prinsip saling melengkapi antara efisiensi dan equitas di sekolah dasar dan menengah terabaikan dalam pencarian equitas. Tingkat optimal efisiensi di sistem sekolah yang besar akan berkontribusi lebih banyak pada penyebab equitas dibandingkan reformasi di sekolah manapun yang sedang diberlakukan.

Keuangan publik juga mengalami permasalahan. Kenyamanan dalam defisit keuangan tidak lagi meyakinkan. Nilai pendidikan tidak bisa lagi diragukan. Terdapat seni menguangkan pendidikan. Tapi terjadi juga kebingungan dalam menggunakan nilai pendidikan dan keuangan pendidikan dalam menyelesaikan masalah di pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sedikit sekali persetujuan terjadi dalam permasalahan ini. Prospek penyelesaian permasalah masih suram sampai kita dapat mengidentifikasinya dengan jelas dan tepat. Meskipun konsep efisiensi dan equitas cukup relevan untuk tujuan ini, namun hal itu tidaklah mencukupi.

  1. Pendidikan sebagai Modal Manusia dan Atributnya

Pendidikan adalah kemampuan personal yang dipelajari. Hal ini menjadi unik ketika kita memilikinya, tak seorangpun dapat mengambilnya. Kita juga tidak dapat menyingkirkannya. Kita menyebutnya modal kemampuan yang diperoleh karena ia memberikan jasa berharga dan menjadi investasi. Kita menyebutnya modal manusia karena diwujudkan pada manusia. Kita sadar bahwa tak ada seorangpun yang dapat menjual modal pendidikannya. Dia juga tidak bisa menjual dirinya sendiri karena hal itu berarti perbudakan. Dia juga tidak bisa mentransfer pendidikannya kepada orang lain. Itu merupakan modal manusia miliknya dan digunakan selama dia hidup. Modal fisik berbeda dengan modal manusia. Kepemilikan modal fisik diatur oleh hak-hak properti. Seperti halnya properti yang bisa dijual, modal fisik bisa ditransfer sebagai pemberian kepada individu lain. Seperti pabrik, peralatan, rumah dan inventaris yang bisa hancur. Properti pribadi menjadi subyek pajak tahunan, menjadi warisan atau bisa juga disita pemerintah. Pada masa Perang Dunia II jumlah modal manusia di Jerman dan Jepang kurang terganggu dibandingkan jumlah modal fisik. Para pengungsi membawa serta modal manusia mereka saat melarikan diri mencari keamanan. Tembok-tembok dibangun untuk mencegah pelarian; migrasi keluar diawasi bahkan dilarang. Pada tingkat ekstrim, pemerintah tidak bisa menyita modal manusia meskipun nilainya bisa dihancurkan.

Jasa modal manusia dan fisik memiliki banyak atribut ekonomi sama seperti ketika kita menganggap kontribusi jasa ini dalam produksi dan konsumsi. Mereka saling melengkapi di banyak poin pada aktifitas ekonomi; mereka bisa juga saling menggantikan. Buruh dengan keahlian tinggi menjadi esensial pada aktifitas ekonomi moderen misalnya pada proses produksi dan pengoperasian komputer. Modal fisik kadang menjadi substitusi bagi buruh; traktor mengurangi buruh ladang yang dibutuhkan. Bahkan traktor yang lebih moderen memerlukan operator yang berketrampilan tinggi. Kondisi saling melengkapi dan saling menggantikan antara modal fisik dan manusia pada produksi dan konsumsi rumah tangga pada prinsipnya sama dengan produksi di sektor pasar.

BAB III

INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA DALAM PENDIDIKAN

  1. Latar Belakang

Investasi dapat dilakukan bukan saja pada fisik, tetapi juga pada bidang non fisik. Investasi fisik meliputi bangunan pabrik dan perumahan karyawan, mesin-mesin dan peralatan, serta persediaan (bahan mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi). Investasi non fisik meliputi pendidikati, pelatihan, migrasi, pemeliharaan kesehatan dan lapangan kerja. Investasi non fisik  lebih dikenal dengan investasi sumber daya  manusia adalah sejumlah dana yang dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi. Penghasilan selama proses investasi ini sebagai  imbalannya dan diharapkan memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi untuk mampu mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula. Investasi yang demikian    disebut dengan human capital (Payaman J. Simanjuntak, 1985). Istilah modal manusia (human capital) ini dikenal sejak tiga puluh tahun lalu ketika Gary S. Becker, seorang penerima Nobel di bidang ekonomi membuat sebuah buku yang berjudul Human Capital (Becker, 1964 dalam AgusIman Solihin, 1995).

Setelah Theodore W. Schult dan ekonom lain mulai membahas dampak investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi barulah hal ini diperhatikan.  Pembahasan mengenai masalah ini, hubungan investasi sumber daya manusia dengan produktivitas mulai santer terutama setelah munculnya Gary S. Becker dengan analisisnya mengenai Human Capital tersebut (Warsito Jati, 2002).

Sumber daya manusia sebagai salah satu factor produksi selain sumber days alam, modal, entrepreneur untuk menghasilkan output. Semakin tinggi kualitas sumber days manuals, maka semakin meningkat pula efisiensi dan produktivitas suatu negara. Sejarah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manusia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumber daya  alam yang berlimpah.

Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meningkatkan produktivitas faktor produksi secara total. Tanah, tenaga kerja, modal fisik bisa saja mengalami diminishing return, namun ilmu pengetahuan tidak.

Robert M. Solow menekankan kepada peranan ilmu pengetahuan dan investasi  modal sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dad teori Solow ini kemudian dikembangkan teori baru pertumbuhan ekonomi yang dikenal sebagai The New Growth Theory. (H. A. R. Tilaar, 2000)

Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya mengembangkan tingkat pendidikan di dalam usaha untuk membangun suatu perekonomian, adalah:

1. Pendidikan yang lebih tinggi memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi rasionalitas  pemikiran mereka. Hal ini memungkinkan masyarakat mengambil langkah yang lebih rasional dalam bertindak atau mengambil keputusan.

2. Pendidikan memungldnkan masyarakat mempelajari pengetahuan-pengetahuan teknis yang diperlukan untuk memimpin dan menjalankan perusahaan-perusahaan modern dan kegiatan-kegiatan modern lainnya.

3. Pengetahuan yang lebih baik yang diperoleh dari pendidikan menjadi perangsang untuk menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang teknik, ekonomi dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya.

Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat. Menyadari pentingnya peran pendidikan, maka dam tulisan ini akan dibahas mengenai investasi sumber daya manusia melalui pendidikan.

  1. Pembahasan
  2. Teori Human Capital

Asumsi dasar teori Human Capital adalah bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah berarti, di satu pihak, meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan seseorang, tetapi di pihak lain, menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam mengikuti sekolah tersebut. Di samping penundaan menerima penghasilan tersebut, orang yang melanjutkan sekolah harus membayar biaya secara langsung. Maka jumlah penghasilan yang diterimanya seumur hidupnya, dihitung dalam nilai sekarang atau  Net Present Value.

Present Value ini dibedakan dalam dua hal, yaitu apabila pendidikannya hanya sampaiSMA atau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi sebelum bekerja (Bruce E. Kaufman dan Julie L. Hotchkiss, 1999).

  1. Keputusan Berinvestasi

Telah diketahui bahwa peningkatan mutu modal manusia tidak dapat dilakukan dalam tempo yang singkat, namun memerlukan waktu yang panjang. Investasi modal manusia sebenamya sama dengan investasi faktor produksi lainnya. Dalam hal ini jugs diperhitungkan rate of return (manfaatnya) dari investasi pada modal manusia. Bila seseorang akan melakukan investasi, maka ia harus melakukan analisa biaya manfaat  (cost benefit analysis). Biayanya adalah berupa biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah dan opportunity cost dari bersekolah adalah penghasilan yang diterimanya bila ia tidak bersekolah. Sedangkan manfaatnya adalah penghasilan  (return) yang akan diterima dimasa depan setelah masa sekolah selesai. Diharapkan dari investasi ini manfaat yang diperoleh jauh lebih besar daripada biayanya.

Berdasarkan perspektif investasi modal manusia, keputusan untuk langsung bekerja maupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terlebih dulu didasarkan pada keuntungan yang diterima dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan selama melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan gambar berikut :

Gambar 1

 

Dari gambar tersebut ada dua strategi berinvestasi,yaitu :

1. Menyelesaikan SMA-nya (pada usia 18 tahun) dan pada usia itu pula memutuskan untuk langsung bekerja sampai berusia 65 tahun. Hal ini digambarkan oleh kurva SMA.

2. Melanjutkan kuliah selepas SMA pada usia 18 tahun sampai 21 tahun dan barn bekerja pada usia 22 tahun sampai usia 65 tahun. Hal ini digambarkan oleh kurva Perguruan Tinggi.

Biaya yang dikeluarkan untuk kuliah di perguruan tinggi ada dua tipe. Pertama, biaya langsung yang dikeluarkan, meliputi biaya SPP, biaya untuk pembelian buku dan biaya-biaya lain (termasuk biaya hidup apabila melanjutkan kuliah di luar kota atau di luar negeri). Dari gambar tersebut biaya langsung ada di area b . Jumlah biaya langsung tergantung pada banyak faktor misalnya apakah kuliah di universitas negeri atau swasta, apakah memperoleh beasiswa atau tidak dan sebagainya.

Tipe kedua adalah opportunity cost jika melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Yaitu pendapatan yang hilang karena melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.  Opportunity cost ini digambarkan di area a. Jumlah pendapatan yang hilang ini tergantung apakah . bekerja secara paruh waktu  (part time) atau penuh (full time).

Keuntungan yang diperoleh apabila melanjutkan kuliah di perguruan tinggi adalah pendapatan yang tinggi di kemudian hari sesuai dengan tingkat pendidikan yang diperolehnya. Jadi di sini ada gap pendapatan antara lulusan SMA dan lulusan perguruan tinggi, dari gambar ditunjukkan oleh kurva SMA yang semakin menurun dan berada dibawah kurva perguruan tinge. Sedangkan kurva perguruan tinggi semakin meningkat.

  1. Manfaat dan Biaya Sosial Serta Manfaat dan Biaya Individual

Biaya sosial adalah opportunity cost yang harus ditanggung oleh masyarakat seluruhnya sebagai akibat dari adanya keinginan atau kesediaan masyarakat tersebut untuk membiayai perluasan pendidikan tinggi yang mahal dengan dana yang mungkin akan menjadi lebih produktif apabila digunakan pada sektor-sektor ekonomi yang lain. Antara biaya sosial dan biaya individual akan terdapat kesenjangan, sehingga akan lebih memacu tingkat permintaan atas pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi, penciptaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi akan mengakibatkan lonjakan biaya sosial yang ditanggung oleh masyarakat. Masyarakat jugs harus menanggung biaya sosial yang berupa semakin memburuknya alokasi sumber daya yang pada akhirnya akan menyusutkan persediaan dana dan kesempatan untuk menciptakan kesempatan kerja langsung atau untuk menjalankan program pembangunan lainnya. Sedikit demi sedikit pendidikan tinggi bukan lagi menjadi alat, melainkan menjadi tujuan itu sendiri (Michael. P. Todaro, 2000).

Manfaat dan biaya sosial serta manfaat dan biaya individual dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula penghasilan yang diharapkannya sehingga lebih besar dari biaya- biaya pribadi yang harus dikeluarkannya. Untuk memalcsimalkan selisih antara pendapatan yang diharapkan dengan biaya-biaya yang diperkirakan akan muncul  (private rate of return to investment in education), maka strategi optimal yang tersedia bagi orang yang bersangkutan adalah dengan berusaha menempuh pendidikan yang setinggi mungkin.

 

Gambar 3

menunjukkan bahwa kurva manfaat sosial yang semula menanjak secara tajam. Gerakan ini mencerminkan terjadinya perbaikan tingkat produktivitas dari mereka yang mempunyai pendidikan dasar. Kemudian kurva manfaat sosial terus saja meningkat dengan naiknya tingkat pendidikan meskipun dengan laju pertumbuhan yang semakin menurun. Sebaliknya, kurva biaya sosial menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah pada awal tahun pendidikan dasar dan kemudian tumbuh semakin cepat untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Ikutnya dana publik  (social cost) ke dalam pembiayaan pendidikan menjadikan keuntungan sosial (social benefit) layak dipertimbangkan sebagai tolok ukur efektivitas investasi modal manusia. Dengan kata lain, subsidi pendidikan kepada seorang siswa semestinya bernilai secara efektif untuk masyarakat. Selain manfaat sosial, pendidikan juga memberi manfaat individu (private benefit) melalui pendapatan atau akses kepada pekerjaan yang layak. Nilai manfaat sosial pendidikan tinggi cenderung meningkat, meski dengan pertumbuhan relatif lambat. Secara teoritis ada dua hal yang dapat diinterpretasikan dari peningkatan nilai manfaat ini. Pertama, peningkatan nilai manfaat disebabkan penawaran pendidikan tinggi (supply of higher education) masih belum mencapai titik jenuh, sehingga setiap unit peningkatan penawaran masih memberi  return yang positif (belum mencapai excess supply). Kedua, terjadinya perubahan struktur ekonomi dan tenaga kerja di mana permintaan akan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi kian besar yang mendorong lulusan kelompok ini menerima tingkat upah di atas tingkat upah yang kompetitif. Tingkat upah yang tinggi tentu akan memperbesar sumbangan pada negara melalui pajak dan ini mendorong meningkatnya manfaat sosial (Teguh Yudo Wicaksono, 2004).

  1. Nilai Balikan (Rate of Return) Pendidikan

Pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return) (lik Nurul Paik,2004). Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan nilai total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja (Nurkolis, 2002).

Di negara-negara berkembang, umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi daripada investasi modal fisik yaitu 20 % disbanding15 %. Sedangkan di negara maju, nilai batik investasi pendidikan lebih rendah disbanding investasi modal fisik yaitu 9 % disbanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relative lebih terbatas jumlahnya dibanding dengan kebutuhan sehingga tingkat  pendapatan lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, 1997 dalam Nurkolis, 2002).

  1. Fungsi Investasi dalam Bidang Pendidikan

Investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya dan fungsi kependidikan. Dalam fungsi teknis ekonomis, pendidikan dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi (teori modal manusia). Orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, diukur dengan lamanya waktu untuk sekolah akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang pendidikannya lebih rendah. Apabila upah mencerminkan produktivitas, maka semakin banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi, semakin tinggi produktivitas dan hasil ekonomi nasionalnya akan tumbuh lebih tinggi (Elwin Tobing, 2005). Investasi pendidikan dalam fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin (Yin Cheong Cheng dalam Nurkolis,2002).

Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demokratis. Selain itu, orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggungjawab terhadap bangsa dan negara lebih balk dibandinglcan dengan yang kurang berpendidikan. Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan danperkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional. Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat  (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.

  1. Kondisi Pendidikan di Indonesia

Menurut Boediarso Teguh Widodo (2004) indikator kemajuan sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya pendidikan melalui pendidikan adalah :

Rata-rata lama sekolah penduduk (15 tahun ke atas) naik dari 6,7 tahun (2000) menjadi 7,1 tahun (2003).

Proporsi penduduk (10 tahun ke atas) yang berpendidikan SLTP ke atas naik menjadi 36,21 % (2003).

Angka melek aksara penduduk (usia 15 tahun ke atas) naik menjadi 89,79 %.

Kualitas SDM Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara

lain, hal ini dapat diketahui dari :

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) urutan 112 dari 175 negara.

Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index, GDI) Indonesia

berada di urutan 91 dari 144 negara.

Indeks Pencapaian Teknologi (IPT) Indonesia berada pada urutan ke 60 dari 72 negara.

Program-program utama bidang pendidikan di Indonesia adalah :

Program Wajib Belajar Sembilan Tahun, dengan titik berat :

•  Peningkatan partisipasi anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan dasar.

•  Penurunan angka putus sekolah dan angka mengulang kelas, serta meningkatkan kualitas pendidikan.

• Penyediaa tambahan layanan pendidikan bagi anak-anak yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.

Program pendidikan menengah, dengan titik berat :

• Peningkatan penyediaan layanan pendidikan menengah guna menyerap naiknya lulusan pendidikan dasar.

• Penurunan angka putus sekolah dan angka mengulang kelas, serta meningkatkan kualitas pendidikan.

• Penguatan pendidikan vokasi melalui sekolah/madrasah umum dan kejuruan.

Program pendidikan tinggi, dengan titik berat

• Peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing bangsa.

• Peningkatan otonomi dan desentralisasi pendidikan tinggi.

• Peningkatan peluang dan kesehatan organisasi pendidikan tinggi.

Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dengan titik berat :

• Peningkatan rasio pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta

didik.

• Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan untuk setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan.

• Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan hukum terhadap pendidik dan tenaga

kependidikan.

• Pelembagaan system standarisasi dan sertifikasi kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan.

BAB IV

PENUTUP

  1. Simpulan

Pendidikan mempunyai tujuan yang lebih dari mempersiapkan seorang pekerja yang produktif. Pendekatan humanisme menuntut proses pendidikan sebagai suatu proses total untuk mengembangkan manusia seutuhnya. Peran ganda pendidikan perlu ditekankan dan diterapkan. Peran tersebut adalah :

1.  Pendidikan berfungsi untuk membina kemanusiaan (human being). Hal ini berarti bahwa pendidikan pada akhirnya dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh pribadi manusia, termasuk mempersiapkan manusia sebagai anggota masyarakatnya, warga negara yang baik dan rasa persatuan (cohesiveness).

2. Pendidikan mempunyai fungsi sebagai  human resources yaitu mengembangkan kemampuannya memasuki era kehidupan baru seperti kompetitif dan employability (H. A. R. Tilaar, 2000).

B. Saran

Mengingat pentingnya peran pendidikan tersebut, maka investasi modal manusia melalui pendidikan di negara berkembang sangat diperlukan walaupun investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang secara makro, manfaat dari investasi ini baru dapat dirasakan setelah puluhan tahun. Keterbatasan dana mengharuskan adanya penetapan prioritas dari berbagai pilihan kegiatan investasi di bidang pendidikan yangsesuai, dalam jangka panjang akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Investasi yang menguntungkan adalah investasi modal manusia untuk mempersiapkan kreativitas, produktivitas dan jiwa kompetitif dalam masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Iman Solihin. 1995. Investasi Modal Manusia Melalui Pendidikan : Pentingnya Peran Pemerintah. Mini Economica 23, Jakarta, Him. : 6 — 20

Akhmad Bayhaqi. 2000. Sosial Aspect of Higher Education : The Case of Indonesia. Ekonomi dan Keuangan Indonesia Volume XLVIII Nomor 3. Jakarta, Him. : 215 — 252

Arya Budhiastra Gaduh. 2000. Pendidikan di Indonesia Sebelum dan Selama Krisis. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 322 — 339

Boediarso Teguh Widodo, 2004, Komitmen Pemerintah Untuk Meningkatkan Kualitas SDM Melalui APBN. Disampaikan dalam Seminar Nasional Kebijakan Fiskal di Era Pemerintahan Baru Dalam Rangka Dies Natalie Universitas Diponegoro 26 Oktober 2004.

Ehrenburg, Ronald 0 dan Robert S. Smith. 1999. Modern Labor Economics, Theory and Public Policy. Fifth Edition. Harper Collins Colledge Publishers.

H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 257 – 285

Iik Nurulpaik. 2004. Pendidikan Sebagai Investasi. bttp : //www. pikiran-rakyat.com

Kaufman, Bruce E dan Julie L. Hotchkiss. 1999. The Economics of Labor Markets. Fifth Edition. The Dryden Press.

Nurkolis. 2002. Pendidikan Sebagai . Investasi Jangka Panjang. bttp : //artikel.us/ nurkolis5.html

Simanjuntak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Teguh Yudo Wicaksono. 2004. Besarkah Manfaat Pendidikan Tinggi terhadap Pembangunan Ekonomi ? bttp : //www.csis,or.id

Tobing, Elwin. 2005. Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi. http : //www. theindonesianinstitute.ore/janeducfile.htm

Todaro, Michael P. 2000. Economic Development. Seventh Edition. Longman

Warsito Jati. 2002. Indonesia Krisis Sumber Daya Manusia. EDENTS No. 6/XXVI/  2002, Semarang. Him : 7 – 9

 

PENDEKATAN MODAL MANUSIA

DAN INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas

  Mata Kuliah Manajemen  Sumberdaya Pendidikan

 

 Dosen Pengampu:

Dr. Nurkolis, M.M dan Dr. Noor Miyono, M.Si.

 

Oleh   :

 

                                  HABIBI      :      11510035

 

 

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PASCA SARJANA IKIP PGRI SEMARANG

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sebuah upaya yang dapat mempercepat pengembangan SDM untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor sangat penting dalam kehidupan manusia masa akan datang, sebab pendidikan merupakan suatu proses pembentukan manusia untuk menumbuh kembangkan potensi yang ada. Sangat jelas dinyatakan dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Pasal 3, fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah penyelenggaraan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri.

Pengembangan Sumberdaya manusia melalui pendidikan sebagai sebuah investasi membutuhkan dana atau pembiayaan yang bersifat jangka panjang. Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa pembicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan.Johns dan Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi dan negara modern. Dikemukakan hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan a major contributor terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan. Tulisan ini akan membahas Pendekatan modal manusia dalam pengaturan dan pembiayaan pendidikan serta investasi sumberdaya daya manusia melalui pendidikan.

BAB II

PENDEKATAN MODAL MANUSIA DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

  1. Kajian Teori

Teori ini menyatakan pendidikan sebagai saham pribadi dari modal manusia yang normalnya diperoleh selama masa muda. Pencapaian pendidikan memiliki arti sebagai penerimaan investasi. Pencapaian pendidikan merupakan komitmen sumber-sumber pribadi yang meliputi nilai masa muda dan masa tua yang mengabdikan diri kepada sekolah dan pendidikan anak-anak mereka. Imbalan dari investasi pendidikan adalah imbalan pribadi, menjadi subyek dari resiko dan ketidakpastian yang ditanggung juga secara pribadi. Teori modal manusia berhubungan dengan ilmu ekonomi tentang alokasi waktu dan pengaruh mendalam dari pendidikan dalam waktu, pendapatan, konsumsi, pernikahan, kesehatan, kepercayaan diri, kemampuan dan kepuasan personal. Teori ini juga bermanfaat dalam menentukan efek pendidikan pada distribusi pendapatan seseorang dan jaringan antar generasi (Tomes 1981).

Teori modal manusia bukan tentang skala optimal sekolah dan sistemnya, bukan juga tentang distribusi pendapatan seseorang yang layak dalam pendidikan. Juga bukan sebagai solusi permasalahan insentif guru yang kecil. Teori ini tidak mengarah pada studi efek buruk penyangkalan otoritas orang tua dalam keputusan-keputusan sekolah yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas ketersediaan sekolah bagi anak-anak mereka.

  1. Sekilas Pandang tentang Keuntungan Pendidikan

Produktifitas yang dinamis membuat tingkat keuntungan pendidikan cenderung melebihi tingkat keuntungan modal fisik. Sebagai jawaban dari perbedaan keuntungan ini pertumbuhan persediaan modal manusia yang sebagian besar adalah pendidikan lebih tinggi dari pertumbuhan modal fisik. Saham pemasukan properti menurun  dari sekitar 45 menjadi 20 persen sedangkan buruh yang meliputi semua pelayanan di sektor pasar, meningkat dari 55 menjadi 80 persen. Ketidaksamaan dalam distribusi pendapatan perorangan menurun seperti halnya konsekuensi perubahan di faktor asset.

Seluruh perolehan tersebut menghapus pendidikan kontribusi non pasar di produksi rumah tangga, pengasuhan anak, pemerolehan kesehatan anggota  keluarga, pembelian barang konsumsi dan jasa, penghitungan kualitas pendidikan yang diterima anak, dan yang terpenting adalah penentuan kompetensi sosial dan kualitas gaya hidup. Tak ada satupun dari nilai non-pasar di atas masuk dalam tingkat moneter keuntungan pendidikan yang berasal dari sektor aktifitas pasar.

2.Sekolah yang Semakin Efisien adalah Sarana Utama dalam Memperoleh Equitas dan Pembelajaran Anak

Permasalahan yang muncul di sekolah – sekolah negeri adalah ketidakefisienan. Banyak sistem sekolah di kota besar memiliki performa yang buruk. Para guru mendapatkan insentif yang tidak mencukupi. Sekolah untuk anak tidak memadai. Reformasi pendidikan sebagai mandat dari negara ditegakkan dengan menempatkan anak dalam bahaya. Orang tua mengetahui kalau kualitas sekolah anak mereka buruk tapi mereka hanya dapat berbuat sedikit kecuali jika mereka berpindah tempat tinggal atau beralih ke sekolah swasta dan membayar pajak serta iuran pendidikan.

Prinsip saling melengkapi antara efisiensi dan equitas di sekolah dasar dan menengah terabaikan dalam pencarian equitas. Tingkat optimal efisiensi di sistem sekolah yang besar akan berkontribusi lebih banyak pada penyebab equitas dibandingkan reformasi di sekolah manapun yang sedang diberlakukan.

Keuangan publik juga mengalami permasalahan. Kenyamanan dalam defisit keuangan tidak lagi meyakinkan. Nilai pendidikan tidak bisa lagi diragukan. Terdapat seni menguangkan pendidikan. Tapi terjadi juga kebingungan dalam menggunakan nilai pendidikan dan keuangan pendidikan dalam menyelesaikan masalah di pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sedikit sekali persetujuan terjadi dalam permasalahan ini. Prospek penyelesaian permasalah masih suram sampai kita dapat mengidentifikasinya dengan jelas dan tepat. Meskipun konsep efisiensi dan equitas cukup relevan untuk tujuan ini, namun hal itu tidaklah mencukupi.

3.Pendidikan sebagai Modal Manusia dan Atributnya

Pendidikan adalah kemampuan personal yang dipelajari. Hal ini menjadi unik ketika kita memilikinya, tak seorangpun dapat mengambilnya. Kita juga tidak dapat menyingkirkannya. Kita menyebutnya modal kemampuan yang diperoleh karena ia memberikan jasa berharga dan menjadi investasi. Kita menyebutnya modal manusia karena diwujudkan pada manusia. Kita sadar bahwa tak ada seorangpun yang dapat menjual modal pendidikannya. Dia juga tidak bisa menjual dirinya sendiri karena hal itu berarti perbudakan. Dia juga tidak bisa mentransfer pendidikannya kepada orang lain. Itu merupakan modal manusia miliknya dan digunakan selama dia hidup. Modal fisik berbeda dengan modal manusia. Kepemilikan modal fisik diatur oleh hak-hak properti. Seperti halnya properti yang bisa dijual, modal fisik bisa ditransfer sebagai pemberian kepada individu lain. Seperti pabrik, peralatan, rumah dan inventaris yang bisa hancur. Properti pribadi menjadi subyek pajak tahunan, menjadi warisan atau bisa juga disita pemerintah. Pada masa Perang Dunia II jumlah modal manusia di Jerman dan Jepang kurang terganggu dibandingkan jumlah modal fisik. Para pengungsi membawa serta modal manusia mereka saat melarikan diri mencari keamanan. Tembok-tembok dibangun untuk mencegah pelarian; migrasi keluar diawasi bahkan dilarang. Pada tingkat ekstrim, pemerintah tidak bisa menyita modal manusia meskipun nilainya bisa dihancurkan.

Jasa modal manusia dan fisik memiliki banyak atribut ekonomi sama seperti ketika kita menganggap kontribusi jasa ini dalam produksi dan konsumsi. Mereka saling melengkapi di banyak poin pada aktifitas ekonomi; mereka bisa juga saling menggantikan. Buruh dengan keahlian tinggi menjadi esensial pada aktifitas ekonomi moderen misalnya pada proses produksi dan pengoperasian komputer. Modal fisik kadang menjadi substitusi bagi buruh; traktor mengurangi buruh ladang yang dibutuhkan. Bahkan traktor yang lebih moderen memerlukan operator yang berketrampilan tinggi. Kondisi saling melengkapi dan saling menggantikan antara modal fisik dan manusia pada produksi dan konsumsi rumah tangga pada prinsipnya sama dengan produksi di sektor pasar.

BAB III

INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA DALAM PENDIDIKAN

  1. Latar Belakang

Investasi dapat dilakukan bukan saja pada fisik, tetapi juga pada bidang non fisik. Investasi fisik meliputi bangunan pabrik dan perumahan karyawan, mesin-mesin dan peralatan, serta persediaan (bahan mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi). Investasi non fisik meliputi pendidikati, pelatihan, migrasi, pemeliharaan kesehatan dan lapangan kerja. Investasi non fisik  lebih dikenal dengan investasi sumber daya  manusia adalah sejumlah dana yang dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi. Penghasilan selama proses investasi ini sebagai  imbalannya dan diharapkan memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi untuk mampu mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula. Investasi yang demikian    disebut dengan human capital (Payaman J. Simanjuntak, 1985). Istilah modal manusia (human capital) ini dikenal sejak tiga puluh tahun lalu ketika Gary S. Becker, seorang penerima Nobel di bidang ekonomi membuat sebuah buku yang berjudul Human Capital (Becker, 1964 dalam AgusIman Solihin, 1995).

Setelah Theodore W. Schult dan ekonom lain mulai membahas dampak investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi barulah hal ini diperhatikan.  Pembahasan mengenai masalah ini, hubungan investasi sumber daya manusia dengan produktivitas mulai santer terutama setelah munculnya Gary S. Becker dengan analisisnya mengenai Human Capital tersebut (Warsito Jati, 2002).

Sumber daya manusia sebagai salah satu factor produksi selain sumber days alam, modal, entrepreneur untuk menghasilkan output. Semakin tinggi kualitas sumber days manuals, maka semakin meningkat pula efisiensi dan produktivitas suatu negara. Sejarah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manusia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumber daya  alam yang berlimpah.

Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meningkatkan produktivitas faktor produksi secara total. Tanah, tenaga kerja, modal fisik bisa saja mengalami diminishing return, namun ilmu pengetahuan tidak.

Robert M. Solow menekankan kepada peranan ilmu pengetahuan dan investasi  modal sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dad teori Solow ini kemudian dikembangkan teori baru pertumbuhan ekonomi yang dikenal sebagai The New Growth Theory. (H. A. R. Tilaar, 2000)

Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya mengembangkan tingkat pendidikan di dalam usaha untuk membangun suatu perekonomian, adalah:

1. Pendidikan yang lebih tinggi memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi rasionalitas  pemikiran mereka. Hal ini memungkinkan masyarakat mengambil langkah yang lebih rasional dalam bertindak atau mengambil keputusan.

2. Pendidikan memungldnkan masyarakat mempelajari pengetahuan-pengetahuan teknis yang diperlukan untuk memimpin dan menjalankan perusahaan-perusahaan modern dan kegiatan-kegiatan modern lainnya.

3. Pengetahuan yang lebih baik yang diperoleh dari pendidikan menjadi perangsang untuk menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang teknik, ekonomi dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya.

Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat. Menyadari pentingnya peran pendidikan, maka dam tulisan ini akan dibahas mengenai investasi sumber daya manusia melalui pendidikan.

  1. Pembahasan
  2. Teori Human Capital

Asumsi dasar teori Human Capital adalah bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah berarti, di satu pihak, meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan seseorang, tetapi di pihak lain, menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam mengikuti sekolah tersebut. Di samping penundaan menerima penghasilan tersebut, orang yang melanjutkan sekolah harus membayar biaya secara langsung. Maka jumlah penghasilan yang diterimanya seumur hidupnya, dihitung dalam nilai sekarang atau  Net Present Value.

Present Value ini dibedakan dalam dua hal, yaitu apabila pendidikannya hanya sampaiSMA atau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi sebelum bekerja (Bruce E. Kaufman dan Julie L. Hotchkiss, 1999).

  1. Keputusan Berinvestasi

Telah diketahui bahwa peningkatan mutu modal manusia tidak dapat dilakukan dalam tempo yang singkat, namun memerlukan waktu yang panjang. Investasi modal manusia sebenamya sama dengan investasi faktor produksi lainnya. Dalam hal ini jugs diperhitungkan rate of return (manfaatnya) dari investasi pada modal manusia. Bila seseorang akan melakukan investasi, maka ia harus melakukan analisa biaya manfaat  (cost benefit analysis). Biayanya adalah berupa biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah dan opportunity cost dari bersekolah adalah penghasilan yang diterimanya bila ia tidak bersekolah. Sedangkan manfaatnya adalah penghasilan  (return) yang akan diterima dimasa depan setelah masa sekolah selesai. Diharapkan dari investasi ini manfaat yang diperoleh jauh lebih besar daripada biayanya.

Berdasarkan perspektif investasi modal manusia, keputusan untuk langsung bekerja maupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terlebih dulu didasarkan pada keuntungan yang diterima dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan selama melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan gambar berikut :

Gambar 1

 

Dari gambar tersebut ada dua strategi berinvestasi,yaitu :

1. Menyelesaikan SMA-nya (pada usia 18 tahun) dan pada usia itu pula memutuskan untuk langsung bekerja sampai berusia 65 tahun. Hal ini digambarkan oleh kurva SMA.

2. Melanjutkan kuliah selepas SMA pada usia 18 tahun sampai 21 tahun dan barn bekerja pada usia 22 tahun sampai usia 65 tahun. Hal ini digambarkan oleh kurva Perguruan Tinggi.

Biaya yang dikeluarkan untuk kuliah di perguruan tinggi ada dua tipe. Pertama, biaya langsung yang dikeluarkan, meliputi biaya SPP, biaya untuk pembelian buku dan biaya-biaya lain (termasuk biaya hidup apabila melanjutkan kuliah di luar kota atau di luar negeri). Dari gambar tersebut biaya langsung ada di area b . Jumlah biaya langsung tergantung pada banyak faktor misalnya apakah kuliah di universitas negeri atau swasta, apakah memperoleh beasiswa atau tidak dan sebagainya.

Tipe kedua adalah opportunity cost jika melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Yaitu pendapatan yang hilang karena melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.  Opportunity cost ini digambarkan di area a. Jumlah pendapatan yang hilang ini tergantung apakah . bekerja secara paruh waktu  (part time) atau penuh (full time).

Keuntungan yang diperoleh apabila melanjutkan kuliah di perguruan tinggi adalah pendapatan yang tinggi di kemudian hari sesuai dengan tingkat pendidikan yang diperolehnya. Jadi di sini ada gap pendapatan antara lulusan SMA dan lulusan perguruan tinggi, dari gambar ditunjukkan oleh kurva SMA yang semakin menurun dan berada dibawah kurva perguruan tinge. Sedangkan kurva perguruan tinggi semakin meningkat.

  1. Manfaat dan Biaya Sosial Serta Manfaat dan Biaya Individual

Biaya sosial adalah opportunity cost yang harus ditanggung oleh masyarakat seluruhnya sebagai akibat dari adanya keinginan atau kesediaan masyarakat tersebut untuk membiayai perluasan pendidikan tinggi yang mahal dengan dana yang mungkin akan menjadi lebih produktif apabila digunakan pada sektor-sektor ekonomi yang lain. Antara biaya sosial dan biaya individual akan terdapat kesenjangan, sehingga akan lebih memacu tingkat permintaan atas pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi, penciptaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi akan mengakibatkan lonjakan biaya sosial yang ditanggung oleh masyarakat. Masyarakat jugs harus menanggung biaya sosial yang berupa semakin memburuknya alokasi sumber daya yang pada akhirnya akan menyusutkan persediaan dana dan kesempatan untuk menciptakan kesempatan kerja langsung atau untuk menjalankan program pembangunan lainnya. Sedikit demi sedikit pendidikan tinggi bukan lagi menjadi alat, melainkan menjadi tujuan itu sendiri (Michael. P. Todaro, 2000).

Manfaat dan biaya sosial serta manfaat dan biaya individual dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula penghasilan yang diharapkannya sehingga lebih besar dari biaya- biaya pribadi yang harus dikeluarkannya. Untuk memalcsimalkan selisih antara pendapatan yang diharapkan dengan biaya-biaya yang diperkirakan akan muncul  (private rate of return to investment in education), maka strategi optimal yang tersedia bagi orang yang bersangkutan adalah dengan berusaha menempuh pendidikan yang setinggi mungkin.

Gambar 3 menunjukkan bahwa kurva manfaat sosial yang semula menanjak secara tajam. Gerakan ini mencerminkan terjadinya perbaikan tingkat produktivitas dari mereka yang mempunyai pendidikan dasar. Kemudian kurva manfaat sosial terus saja meningkat dengan naiknya tingkat pendidikan meskipun dengan laju pertumbuhan yang semakin menurun. Sebaliknya, kurva biaya sosial menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah pada awal tahun pendidikan dasar dan kemudian tumbuh semakin cepat untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Ikutnya dana publik  (social cost) ke dalam pembiayaan pendidikan menjadikan keuntungan sosial (social benefit) layak dipertimbangkan sebagai tolok ukur efektivitas investasi modal manusia. Dengan kata lain, subsidi pendidikan kepada seorang siswa semestinya bernilai secara efektif untuk masyarakat. Selain manfaat sosial, pendidikan juga memberi manfaat individu (private benefit) melalui pendapatan atau akses kepada pekerjaan yang layak. Nilai manfaat sosial pendidikan tinggi cenderung meningkat, meski dengan pertumbuhan relatif lambat. Secara teoritis ada dua hal yang dapat diinterpretasikan dari peningkatan nilai manfaat ini. Pertama, peningkatan nilai manfaat disebabkan penawaran pendidikan tinggi (supply of higher education) masih belum mencapai titik jenuh, sehingga setiap unit peningkatan penawaran masih memberi  return yang positif (belum mencapai excess supply). Kedua, terjadinya perubahan struktur ekonomi dan tenaga kerja di mana permintaan akan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi kian besar yang mendorong lulusan kelompok ini menerima tingkat upah di atas tingkat upah yang kompetitif. Tingkat upah yang tinggi tentu akan memperbesar sumbangan pada negara melalui pajak dan ini mendorong meningkatnya manfaat sosial (Teguh Yudo Wicaksono, 2004).

  1. Nilai Balikan (Rate of Return) Pendidikan

Pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return) (lik Nurul Paik,2004). Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan nilai total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja (Nurkolis, 2002).

Di negara-negara berkembang, umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi daripada investasi modal fisik yaitu 20 % disbanding15 %. Sedangkan di negara maju, nilai batik investasi pendidikan lebih rendah disbanding investasi modal fisik yaitu 9 % disbanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relative lebih terbatas jumlahnya dibanding dengan kebutuhan sehingga tingkat  pendapatan lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, 1997 dalam Nurkolis, 2002).

 

  1. Fungsi Investasi dalam Bidang Pendidikan

Investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya dan fungsi kependidikan. Dalam fungsi teknis ekonomis, pendidikan dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi (teori modal manusia). Orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, diukur dengan lamanya waktu untuk sekolah akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang pendidikannya lebih rendah. Apabila upah mencerminkan produktivitas, maka semakin banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi, semakin tinggi produktivitas dan hasil ekonomi nasionalnya akan tumbuh lebih tinggi (Elwin Tobing, 2005). Investasi pendidikan dalam fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin (Yin Cheong Cheng dalam Nurkolis,2002).

Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demokratis. Selain itu, orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggungjawab terhadap bangsa dan negara lebih balk dibandinglcan dengan yang kurang berpendidikan. Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan danperkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional. Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat  (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.

  1. Kondisi Pendidikan di Indonesia

Menurut Boediarso Teguh Widodo (2004) indikator kemajuan sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya pendidikan melalui pendidikan adalah :

Rata-rata lama sekolah penduduk (15 tahun ke atas) naik dari 6,7 tahun (2000) menjadi 7,1 tahun (2003).

Proporsi penduduk (10 tahun ke atas) yang berpendidikan SLTP ke atas naik menjadi 36,21 % (2003).

Angka melek aksara penduduk (usia 15 tahun ke atas) naik menjadi 89,79 %.

Kualitas SDM Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara

lain, hal ini dapat diketahui dari :

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) urutan 112 dari 175 negara.

Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index, GDI) Indonesia

berada di urutan 91 dari 144 negara.

Indeks Pencapaian Teknologi (IPT) Indonesia berada pada urutan ke 60 dari 72 negara.

Program-program utama bidang pendidikan di Indonesia adalah :

Program Wajib Belajar Sembilan Tahun, dengan titik berat :

•  Peningkatan partisipasi anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan dasar.

•  Penurunan angka putus sekolah dan angka mengulang kelas, serta meningkatkan kualitas pendidikan.

• Penyediaa tambahan layanan pendidikan bagi anak-anak yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.

Program pendidikan menengah, dengan titik berat :

• Peningkatan penyediaan layanan pendidikan menengah guna menyerap naiknya lulusan pendidikan dasar.

• Penurunan angka putus sekolah dan angka mengulang kelas, serta meningkatkan kualitas pendidikan.

• Penguatan pendidikan vokasi melalui sekolah/madrasah umum dan kejuruan.

Program pendidikan tinggi, dengan titik berat

• Peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing bangsa.

• Peningkatan otonomi dan desentralisasi pendidikan tinggi.

• Peningkatan peluang dan kesehatan organisasi pendidikan tinggi.

Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dengan titik berat :

• Peningkatan rasio pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta

didik.

• Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan untuk setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan.

• Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan hukum terhadap pendidik dan tenaga

kependidikan.

• Pelembagaan system standarisasi dan sertifikasi kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan

 

BAB IV

PENUTUP

  1. Simpulan

Pendidikan mempunyai tujuan yang lebih dari mempersiapkan seorang pekerja yang produktif. Pendekatan humanisme menuntut proses pendidikan sebagai suatu proses total untuk mengembangkan manusia seutuhnya. Peran ganda pendidikan perlu ditekankan dan diterapkan. Peran tersebut adalah :

1.  Pendidikan berfungsi untuk membina kemanusiaan (human being). Hal ini berarti bahwa pendidikan pada akhirnya dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh pribadi manusia, termasuk mempersiapkan manusia sebagai anggota masyarakatnya, warga negara yang baik dan rasa persatuan (cohesiveness).

2. Pendidikan mempunyai fungsi sebagai  human resources yaitu mengembangkan kemampuannya memasuki era kehidupan baru seperti kompetitif dan employability (H. A. R. Tilaar, 2000).

B. Saran

Mengingat pentingnya peran pendidikan tersebut, maka investasi modal manusia melalui pendidikan di negara berkembang sangat diperlukan walaupun investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang secara makro, manfaat dari investasi ini baru dapat dirasakan setelah puluhan tahun. Keterbatasan dana mengharuskan adanya penetapan prioritas dari berbagai pilihan kegiatan investasi di bidang pendidikan yangsesuai, dalam jangka panjang akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Investasi yang menguntungkan adalah investasi modal manusia untuk mempersiapkan kreativitas, produktivitas dan jiwa kompetitif dalam masyarakatnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus Iman Solihin. 1995. Investasi Modal Manusia Melalui Pendidikan : Pentingnya Peran Pemerintah. Mini Economica 23, Jakarta, Him. : 6 — 20

Akhmad Bayhaqi. 2000. Sosial Aspect of Higher Education : The Case of Indonesia. Ekonomi dan Keuangan Indonesia Volume XLVIII Nomor 3. Jakarta, Him. : 215 — 252

Arya Budhiastra Gaduh. 2000. Pendidikan di Indonesia Sebelum dan Selama Krisis. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 322 — 339

Boediarso Teguh Widodo, 2004, Komitmen Pemerintah Untuk Meningkatkan Kualitas SDM Melalui APBN. Disampaikan dalam Seminar Nasional Kebijakan Fiskal di Era Pemerintahan Baru Dalam Rangka Dies Natalie Universitas Diponegoro 26 Oktober 2004.

Ehrenburg, Ronald 0 dan Robert S. Smith. 1999. Modern Labor Economics, Theory and Public Policy. Fifth Edition. Harper Collins Colledge Publishers.

H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 257 – 285

Iik Nurulpaik. 2004. Pendidikan Sebagai Investasi. bttp : //www. pikiran-rakyat.com

Kaufman, Bruce E dan Julie L. Hotchkiss. 1999. The Economics of Labor Markets. Fifth Edition. The Dryden Press.

Nurkolis. 2002. Pendidikan Sebagai . Investasi Jangka Panjang. bttp : //artikel.us/ nurkolis5.html

Simanjuntak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Teguh Yudo Wicaksono. 2004. Besarkah Manfaat Pendidikan Tinggi terhadap Pembangunan Ekonomi ? bttp : //www.csis,or.id

Tobing, Elwin. 2005. Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi. http : //www. theindonesianinstitute.ore/janeducfile.htm

Todaro, Michael P. 2000. Economic Development. Seventh Edition. Longman

Warsito Jati. 2002. Indonesia Krisis Sumber Daya Manusia. EDENTS No. 6/XXVI/  2002, Semarang. Him : 7 – 9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH PEMBELAJARAN AKTIF

TUGAS MATA KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM

PEMBELAJARAN AKTIF

Oleh :

HABIBI      11510035

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

 PROGRAM PASCASARJANA (S2)

IKIP PGRI SEMARANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Sampai saat ini, para penggiat pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dan model-model pembelajaran yang baik dan efektif untuk dapat  membantu guru dalam menyampaikan ilmu-imunya kepada siswanya. Pengembangan ini telah dilakukan sejak dulu hingga sekarang secara kontinyu dan terus menerus, mengikuti perkembangan teknologi dan juga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan.

Pendidikan pada saat ini juga telah berada pada era penjaminan mutu. Mutu pendidikan harus dijamin dan dipertahankan serta ditingkatkan secara berkelanjutan. Kunci utama terjaminnya mutu pendidkan adalah proses pembelajaran.  Pendidikan akan menghasilkan keluaran (output dan outcome) yang bermutu bila proses pembelajarannya bermutu. Proses pembelajaran yang bermutu dapat dilaksanakan dalam berbagai pendekatan. Pendekatan pembelajaran yang diyakini sebagai efektif dan efisien saat ini adalah pendekatan pembelajaran aktif.

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas untuk memperjelas tentang pendekatan pembelajaran yang  diyakini sebagai efektif dan efisien penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian pembelajaran aktif?
  2. Alasan-alasan penerapan pembelajaran aktif di sekolah.
  3. Apa keuntungan-keuntungan dari pembelajaran aktif
  4. Apa prinsip-prinsip pembelajaran aktif
  5. Bagaimana strategi pembelajaran aktif
  6. Apa nama-nama pembelajaran aktif
  7. Bagaimana model-model dan Rancangan pembelajaran aktif
  8. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan  makalah ini adalah untuk mengetahui dan mendalami berbagai hal terkait dengan pembelajran aktif dan rancangan pembelajarannya serta untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN AKTIF

Menurut A.Y. Soegeng Ysh (2012)  Pengertian pembelajaran aktif adalah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang melibatkan para pelajar dalam melakukan suatu hal dan memikirkan apa yang sedang mereka lakukan. Pembelajaran aktif itu diturunkan dari dua asumsi dasar yaitu (1) bahwa belajar pada dasarnya adalah proses yang aktif, dan (2) bahwa orang yang berbeda, belajar dalam cara yang berbeda pula. Sementara menurut pembelajaran PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat  pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut.

Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

  • Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas,
  • Siswa/Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pembelajaran /kuliah,
  • Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pembelajaran/kuliah,
  • Siswa/Mahasiswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi,
  • Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

Di samping karakteristik tersebut di atas, secara umum suatu proses pembelajaran aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap mahasiswa sehingga terdapat individual accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif ini agar dapat berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.

Dengan demikian kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materi juga meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah 10 menit kuliah, siswa/mahasiswa cenderung akan kehilangan konsentrasinya untuk mendengar kuliah yang diberikan oleh pengajar secara pasif. Hal ini tentu saja akan makin membuat pembelajaran tidak efektif jika kuliah terus dilanjutkan tanpa upaya-upaya untuk memperbaikinya. Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif hal tersebut dapat dihindari. Pemindahan peran pada siswa/mahasiswa untuk aktif belajar dapat mengurangi kebosanan ini bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada siswa/mahasiswa. Pada akhirnya hal ini akan membuat proses pembelajaran mencapai learning outcomes yang diinginkan.

  1. ALASAN-ALASAN PENERAPAN  DAN KEUNTUNGAN PEMBE-LAJARAN AKTIF DI SEKOLAH

Ada beberapa alasan menggunakan pembelajaran aktif yaitu:(1) memiliki pengaruh yang kuat pada pembelajaran si belajar,(2) strategi-strategi pengembangan pembelajaran aktif lebih mampu meningkatkan ketrampilan berfikir para pelajar daripada peningkatan penguasaan isi,(3) melibatkan para pelajar dalam tugas-tugas berpikir tingkat lebih tinggi  seperti analisis, sintesis dan evaluasi, dan (4) berbagai gaya belajar dapat dilayani dengan sebaik-baiknya dengan melibatkan para pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajar aktif.

Sedangkan penggunaan pembelajaran aktif juga membawa beberapa keuntungan, yaitu: (1) para pelajar yang aktif menggunakan pengetahuan utama mereka dalam membentuk pemahaman dari isi materi pembelajaran, (2) para pelajar yang aktif berfikir secara kritis dan menciptakan pengembangan mereka sendiri, (3) para pelajar yang aktif terlibat secara kognitif, dan (4) para pelajar yang akatif menerapkan suatu strategi membaca dan belajar lingkup yang luas.

  1. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN AKTIF

Berdasarkan ALIS atau Active Learning in school yaitu pembelajaran aktif yang dilaksanakan di sekolah-sekolah untuk para siswa yang hakikat inti dan isi kurang lebih dengan CBSA, prinsip-prinsip pembelajaran aktifnya sebagai berikut:

  1. Prinsip melakukan, yang dalam CBSA disebut belajar sambil bekerja, pada dasarnya pembelajaran itu harus membuat peserta didik berbuat sesuatu, bukan tinggal diam, berpangku tangan. Perbuatan itu dapat berupa; melihat, mendengar, meraba, merasakan, menulis, mengukur, membaca, menggambar, menghitung yang pada dasarnya sama dengan ketrampilan proses.
  2. Prinsip menggunakan semua alat indera (pancaindera), bahwa dalam pembelajaran hendaknya mengaktifkan semua alat indera untuk memperoleh informasi atau pengetahuan, melalui melihat, mendengar, meraba, mengecap dan membau. Dengan mengerahkan semua semua indera(sejauh memungkinkan) peserta didik akan memperoleh pengetahuan atau informasi yang lebih mengesankan, bukan sekedar hafalan, dan tidak mudah untukdilupakan.
  3. Prinsip eksplorasi lingkungan, bahwa pembelajaran aktif memanfaatkan lingkungan sebagai sarana, media dan/atau sumber belajar. Lingkungan itu dapat berupa lingkungan fisik, lingkungan social, lingkungan budaya, dan juga lingkungan mental. Lingkungan itu dapat berupa obyek (benda-benda), tempat (situasi dan kondisi), kejadian atau peristiwa dan idea tau gagasan.
  4. STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF

Pembelajaran aktif sebagai suatu model memiliki strategi, siasat, atau kiat-kiat untuk mencapai tujuannya. Strategi itu antara lain sebagai berikut:

  1. Terpusat pada siswa (student centered), sebagai upaya meninggalkan dan menghindari strategi lama yang telah mapan, yaitu pembelajaran yang terpusat pada guru, atau lebih tepat bila disebut pembelajaran yang dodominasi oleh guru (teacher centered), bahkan terpusat pada lembaga, demi kepentingan lembaga atau sekolah atau penyelenggara pendidikan (institution centered).
  2. Terkait dengan kehidupan nyata artinya apa yang dipelajari itu harus dapat dimanfaatkan dalam kehidupan nyata di masyarakat, untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, bersifat fungsional, kontekstual.
  3. Diferensiasi artinya memberikan layanan yang berbeda untuk anak yang memiliki kemampuan berbeda, tidak menyamaratakan, memperlakukan sama untuk anak-anak yang berbeda atau bersifat klasikal semata; tetapi juga bukan member perlakuan berbeda untuk anak yang memiliki bakat dan kemampuan yang sama (tidak membeda-bedakan atau diskriminasi); dalam hal ini termasuk memperhatikan perbedaan gender, karena pada dasarnya kodrat wanita tidak sama dengan pria.
  4. Menjadikan lingkungan sebagai media dan/atau sumber belajar, dengan demikian menjadi fungsional. Lingkungan menjadi media pembelajaran mana kala lingkungan itu berfungsi sebagai menghantarkan pesan-pesan, sebagai pengantara, penyalur pesan, yang mampu merangsang: pikiran, perasaan, perhatian, dan keinginan; sedangkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran bilamana lingkungan itu sendiri sebagai hal yang sedang dipelajari. Misalnya, seorang guru agama ingin menyampaikan pesan tentang keagungan Tuhan dengan mengajak para siswa untuk menghayati dahsyatnya letusan gunung berapi sebagai alam ciptaanNya, dengan demikian lingkungan alam itu sebagai media pemebalajaran. Tetapi ketika guru mengajarkan geografi dengan membawa siswa ke gunung yang meletus untuk memperlajari berbagai jenis batuan; lingkungan itu menjadi sumber pembelajaran.
  5. Mengembangkan berpikir tingkat tinggi, dengan mengaktifkan siswa melakukan analisis, menyimpulkan, dan mengevaluasi hal-hal yang sedang dipelajari; bukan sekedar diberitahu, mendengarkan ceritanya, kemudian menghafal.
  6. Memberikan umpan balik, misalnya guru member tanggapan atas permasalahan siswa, mengembalikan hasil ulangan/ujian kepada siswa bahkan mengevaluasi dan memberikan solusi serta tindak lanjut. Itulah yang dimaksud dengan pendidikan yang demokratis, terbuka, dan libertarian, bukan liberalism.
  1. NAMA, DAN TEKNIK  PEMBELAJARAN AKTIF

Ada banyak nama dan teknik pembelajaran aktif dari mulai yang sederhana yang tidak memerlukan persiapan lama dan rumit serta dapat dilaksanakan relatif dengan mudah – sampai dengan yang rumit – yaitu yang memerlukan persiapan lama dan pelaksanaan cukup rumit. Beberapa jenis teknik pembelajaran tersebut antara lain adalah:

1.         Think-Pair-Share

Dengan cara ini mahasiswa diberi pertanyaan atau soal untuk dipikirkan sendiri kurang lebih 2-5 menit (think), kemudian mahasiswa diminta untuk mendiskusikan jawaban atau pendapatnya dengan teman yang duduk di sebelahnya (pair). Setelah itu pengajar dapat menunjuk satu atau lebih mahasiswa untuk menyampaikan pendapatnya atas pertanyaan atau soal itu bagi seluruh kelas (share)

Teknik ini dapat dilakukan setelah menyelesaikan pembahasan satu topik, misalkan setelah 10-20 menit kuliah biasa. Setelah selesai kemudian dilanjutkan dengan membahas topik berikutnya untuk kemudian dilakukan cara ini kembali setelah topik tersebut selesai dijelaskan.

2.        Collaborative Learning Groups

Dibentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 mahasiswa yang dapat bersifat tetap sepanjang semester atau bersifat jangka pendek untuk satu pertemuan kuliah. Untuk setiap kelompok dibentuk ketua kelompok dan penulis. Kelompok diberikan tugas untuk dibahas bersama dimana seringkali tugas ini berupa pekerjaan rumah yang diberikan sebelum kuliah dimulai. Tugas yang diberikan kemudian harus diselesaikan bisa dalam bentuk makalah maupun catatan singkat.

3.      Student-led Review Session

Jika teknik ini digunakan, peran pengajar diberikan kepada mahasiswa. Pengajar hanya bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator.

Teknik ini misalkan dapat digunakan pada sesi review terhadap materi kuliah. Pada bagian pertama dari kuliah kelompok-kelompok kecil mahasiswa diminta untuk mediskusikan hal-hal yang dianggap belum dipahami dari materi tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mahasiswa yang lain menjawabnya. Kegiatan kelompok dapat juga dilakukan dalam bentuk salah satu mahasiswa dalam kelompok tersebut memberikan ilustrasi bagaimana suatu rumus atau metode digunakan. Kemudian pada bagian kedua kegiatan ini dilakukan untuk seluruh kelas. Proses ini dipimpin oleh mahasiswa dan pengajar lebih berperan untuk mengklarifikasi hal-hal yang menjadi bahasan dalam proses pembelajaran tersebut.

4.     Student Debate

Diskusi dalam bentuk debat dilakukan dengan memberikan suatu isu yang sedapat mungkin kontroversial sehingga akan terjadi pendapat-pendapat yang berbeda dari mahasiswa. Dalam mengemukakan pendapat mahasiswa dituntut untuk menggunakan argumentasi yang kuat yang bersumber pada materi-materi kelas. Pengajar harus dapat mengarahkan debat ini pada inti materi kuliah yang ingin dicapai pemahamannya.

  1. Exam questions writting

Untuk mengetahui apakah mahasiswa sudah menguasai materi kuliah tidak hanya diperoleh dengan memberikan ujian atau tes. Meminta setiap mahasiswa untuk membuat soal ujian atau tes yang baik dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa mencerna materi kuliah yang telah diberikan sebelumnya. Pengajar secara langsung bisa membahas dan memberi komentar atas beberapa soal yang dibuat oleh mahasiswa di depan kelas dan/atau memberikan umpan balik kemudian.

  1.  Class Research Symposium

Cara pembelajaran aktif jenis ini bisa diberikan untuk sebuah tugas perancangan atau proyek kelas yang cukup besar. Tugas atau proyek kelas ini diberikan mungkin pada awal kuliah dan mahasiswa mengerjakannya dalam waktu yang cukup panjang termasuk kemungkinan untuk mengumpulkan data atau melakukan pengukuran-pengukuran. Kemudian pada saatnya dilakukan simposium atau seminar kelas dengan tata cara simposium atau seminar yang biasa dilakukan pada kelompok ilmiah.

  1. Analyze Case Studies

Model seperti ini banyak diberikan pada kuliah-kuliah bisnis. Dengan cara ini pengajar memberikan suatu studi kasus yang dapat diberikan sebelum kuliah atau pada saat kuliah. Selama proses pembelajaran, kasus ini dibahas setelah terlebih dahulu mahasiswa mempelajarinya. Sebagai contoh dapat diberikan suatu studi kasus produk rancangan engineering yang ternyata gagal atau salah, kemudian mahasiswa diminta untuk membahas apa kesalahannya, mengapa sampai terjadi dan bagaimana seharusnya perbaikan rancangan dilakukan.

  1. MODEL-MODEL DAN RANCANGAN PEMBELAJARAN AKTIF

Ada banyak model dalam melaksanakan Pembelajaran Aktif, yang dapat diterapkan baik disekolah-sekolah (ALIS) maupun diperguruan tinggi (ALFHE atau ALIHE) yaitu: experimental learning, pembelajaran terpadu, pembelajaran kooperatif, metode studi kasus, simulasi, bermain peran, tutor sebaya, kerja lapangan, belajar mandiri, tugas perpustakaan, dan computer-aided instruction (CAI) serta lesson study. Dari banyak model tersebut, berikut ini dipaparkan beberapa diantaranya.

  1. Pembelajaran Terpadu

Dalam Pembelajaran Terpadu batas-batas mata pelajaran diminimalkan atau bahkan dihilangkan sama sekali (integrated curriculum). Sebagai pengikat atau pemadu matapelajaran-matapelajaran adalah tema, fokus, pusat minat, atau konsep yang bermakna. Yang dijadikan rujukan adalah psikologi Gestalt, dalam hal mana keseluruhan lebih dari sekedar jumlah bagian-bagiannya. Misalnya, konsep “rumah” memiliki arti atau makna lebih dari sekedar lantaim tiang, pintu, jendela, dan atap yang dikumpulkan. Teori belajar yang diacu adalah teori perkembangan, yaitu teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget; teori tingkat perkembangan dari Kohlberg. Pembelajaran Terpadu menolak system drilling, suatu latihan menghafal tanpa makna.

Ciri-ciri atau karakteristik dari Pembelajaran Terpadu adalah: terpusat pada siswa (student centered), siswa menjadi subyek berperan dominan, memberikan pengalaman langsung/nyata/kongkret, tanpa batas-batas yang tegas/kaku, memadukan berbagai konsep menjadi lebih bermakna, sesuai minat dan kebutuhan siswa, bersifat fungsional, belajar sambil melakukan, dan bersifat menyenangkan. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud “menyenangkan” adalah menjadikan senang dalam belajar, bukan belajar bersenang-senang, dan tidak selalu berupa menyanyi atau berjoged. Juga perlu dicatat bahwa tidak semua matapelajaran dapat dipadukan. Dalam Pembelajaran Terpadu dimungkinkan terjadinya penggabungan lintas semester.

Ada beberapa model terpadu dengan skema pembagian beserta penjelasan ringkasnya sebagai berikut (Forgaty.1991.How To Integrate The Curricula. Dalam Decentralized Basic Education 2-USAID: 62-74)

  1. Satu disiplin ilmu (Within single discipline) atau intradisiplin

a)      Fragmented (Terpecah)

b)      Connected (Terkait)

c)      Nested (Terkumpul)

  1. Lintas disiplin ilmu (across several disciplines) atau interdisiplin/multidisiplin

a)      Sequence (Urutan)

b)      Shared (Irisan)

c)      Webbed (Tematik)

d)     Threaded (Rangkaian)

e)      Integrated (Terpadu)

  1. Dalam lintas pembelajar (within and across learners)

a)      Immersed (Terbenam)

b)      Network (Jaringan)

a)      Fragmanted (terpecah), digambarkan sebagai “periscope”, satu petunjuk; satu sudut pandang; fokus pada satu disiplin. Disiplin ilmu di  mana setiap bagian merupakan area bahasan terpisah. Misalnya, Guru menerapkan pandangan ini pada matapelajaran Matematika, Sains, Ilmu Sosial, Sastera/Bahasa, Kemanusiaan, Kesenian, dan Keterampilan.

b)      Connected (terkait), gambaran dari “opera glass”, banyak detail dalam satu disiplin; fokus pada subjudul dan antarhubungan. Dalam tiap matapelajarn/kuliah isi pelajarn dihubungkan antara satu topic dengan topic yang lain, satu konsep dengan konsep lain, berurutan waktu dan menghubungkan beberapa ide secara eksplisit. Misalnya, Guru menghubungkan konsep pembagian dalam decimal dan kemudia menghubungkannya dengan uang dan tingkatan. Model terkait merupakan model terpadu yang paling sederhana, pada dasarnya telah diterapkan pembelajaran tanpa disadari, tidak terencana dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus.

c)      Nested (terkumpul), digambarkan sebagai “kacamata tiga dimensi”, memiliki beberapa cara pandang mengenai seuatu bagian, topic, atau unit. Pada setiap area bahasan guru memiliki beberapa target keterampilan yang harus dicapai, misalnya: materi khusus (content specific skill). Misalnya, Guru membuat desain mengenai fotosintesis untuk mendapatkan target secara bersamaan mengenai: mendapatkan kesepakatan (keterampilan sosial), tahapan (kemampuan berpikir), siklus kehidupan tumbuhan (muatan ilmu).

d)     Sequenced (urutan), digambarkan sebagai “kacamata”, variasi internal yang dikerangkai oleh konsep yang luas dan saling berhubungan. Topik-topik atau unit-unit dari bidang kajian diatur kembali dan siurutkan agar sesuai satu dengan uang lain. Ide-ide yang mirip diajarkan bersamaan. Sambil pada saat yang sama merupakan mata pelajaran yang berbeda. Misalnya, Guru Bahasa Inggris menyajikan novel secara historis pada masa tertentu ketika Guru sejarah mengajarkan periode sejarah yang sama.

e)      Shared (Irisan), digambarkan sebagai “binocular”, dua bagian yang saling tumpang tindih dalam konsep dan keterampilan. Berbagai perencanaan dan pengajaran pada dua disiplin ilmu yang memiliki konsep dan ide yang tumpang tindih yang dipisahkan sebagai elemen pengatur. Misalnya, Guru Matematika dan Sains, menggunakan kumpulan data, grafik, dan chart sebagai konsep yang dapat dianggap sebagai satu kesatuan.

f)       Webbed (tematik), digambarkan sebagai “teleskop”, menghubungkan dua atau lebih bidang ilmu melalui tema atau topic. Tema atau topic merupakan pusat minat yang dikembangkan dari berbagai sudut pandang konsep atau prinsip dari masing-masing bidang ilmu yang dipadukan. Matapelajaran menggunakan tema untuk membahas konsep, topic, ide yang cocok. Misalnya, Guru membuat sebuah tema sederhana, misalnya lingkungan dan membuat jaringannya ke dalam matapelajaran.

g)      Threaded (rangkaian), digambarkan sebagai “kaca pembesar”, ide besar yang dapat menvakup seluruh hal melalui pendekatan metakurikuler. Pendekatan metakulikuler menjadikan keperampilan berpikir, keperampilan social, kecerdasan ganda, teknologi, dan keterampilan belajar melalui disiplin ilmu yang beragam, tetapi tetap dalam satu kesatuan. Misalnya, Guru memiliki target prediksi dalam membaca, matematika, dan percobaan percobaan sains, sementara guru ilmu social memiliki target prediksi situasi saat ini, dan mengaitkan keterampilan pada disiplin ilmu yang lain.

h)      Integratetd (terpadu),  digambarkan sebagai “kaleidoskop”, pola dan desain baru yang menggunakan unsur-unsur dasar tiap disiplin. Pendekatan interdisipliner ini mencocokan matapelajaran yang topic dan konsepnya tumpang tindih dengan kelompok pengajaran tertentu dalam suatu model integrasi yang otentik. Misalnya, dalam pelajaran Matematika, IPA, IPS, Seni Rupa, Bahasa dan Keterampilan, guru mencari model yang berpola terpadu dan memahami isi melalui pola tersebut.

i)        Immersed (terbenam), digambarkan sebagai “mikroskop”, pandangan personal yang mendalam memberikan penjelasan yang rinci seperti semua isi tersaring melalui minat dan keahlian. Disiplin menjadi bagian dari pandangan belajar tentang keahlian; belajar menyaring semua isi dari melalui lensa ini dan menjadi bagian dalam pengalamannya. Misalnya, siswa atau calon doctor memiliki minta pada bidang keahlian dan melihat semua belajar melalui sudut pandang ini.

j)        Networked (jaringan), digambarkan sebagai “prisma”, sebuah sudut pandang yang menciptakan fokus yang berdimensi dan berarah jamak. Pembelajar menyaring semua pelajaran melalui sudut pandang ahli dan membuat hubungan internal yang mengarah pada jaringan ahli eksternal dalam bidang-bidang yang berhubungan. Misalnya, Arsitek ketika menggunakan teknologi CAD dan CAM untuk mendesain, membuat jaringan dengan progamer teknik dan memperluas pengetahuannya seperti biasa dia lakukan dengan desainer interior.

Terdapat empat langkah atau tahapan penting dalam model pembelajaran terpadu. Tahap-tahap itu adalah sebagai berikut.

1)      Tahap pencair suasana, guru mengajak para siswa melakukan kegiatan yang menyenangkan, biasannya dalam bentuk permainan, agar siswa merasa santai, senang, segar, dan antusias serta termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

2)      Pada tahap pemberian pengalaman, guru memberikan materi pembelajaran, pengalaman langsung kepada para siswa yang mampu mengaktifkan pikiran, emosi, dan fisik.

3)      Pada tahap refleksi, para siswa bersama guru merangkum materi pembelajaran, dapat melalui penugasan atau Tanya jawab. Setelah itu siswa dengan bimbingan guru dan menarik kesimpulan, member makna dari hal-hal yang telah dipelajarai untuk kemudian dapat diterapkan dalam praktik kehidupan.

4)      Pada tahap aplikasi, guru membimbing para siswa untuk menerapkan hal-hal yang telah disimpulkan dan diberi makna tersebut diatas.

b)      Pembelajaran Kooperatif

Yang dimaksud dengan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) adalah belajar bersama untuk mencapai tujuan bersama dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Dengan demikian, keberhasilan belajar dari kelompok ini tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik kemampuan dan aktivitas individual maupun secara kelompok.

Cooperative Learning tidak identik dengan “belajar kelompok”. Cooperative Learning lebih bersifat “belajar bersama-sama”. Dalam pembelajaran kooperatif ada struktur kerja sama, terjadi interaksi antara individu yang bersifat interdependensi (saling ketergantungan); bukan sekedar bersama-sama belajar (holobis kuntul baris) atau bergotong-royong yang tanpa interaksi antara individu. Dalam pembelajaran kooperatif tujuan individu dapat terpenuhi bersamaan dengan terpenuhinnya tujuan bersama (getting better together; menjadi lebih baik secara bersama-sama). Dengan menjadi lebih baik secara bersama-sama, menjadi lebih baik pula diri sendiri (Solihatin dan Raharjo, 2007: 4-6)

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Model Jigzaw. Jigzaw dapat berarti gergaji atau puzzle (teka-teki), yaitu gambar yang dipotong-potong secara acak yang harus disusun kembali bentuk semula sebelum dipotong-potong. Berikut ini garis besar langkah-langkah pembelajaran model jigsaw (DBE-2 –USAID,:19).

1)      Peserta didik dikelompokan dalam kelompok kecil yang heterogen., yang disebut “Kelompok Awal”, yang jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya materi pembelajaran. Masing-masing anggota Kelompok Awal ditugasi mempelajari materi tertentu, bagian/penggalan materi yang dipelajari, yang berbeda-beda.

2)      Dibentuk “Kelompok Ahli”, yang terdiri dari para anggota Kelompok Awal yang bertugas mempelajari penggalan materi yang sama. Kelompok Ahli ini bertugas mendalami materi dengan bantuan expert sheet (lembar ahli) atau panduan diskusi.

3)      Setelah mendalami materi dalam Kelompok Ahli, masing-masing kembali ke Kelompok Awal untuk menjelaskan hasil pendalaman materi maing-masing hingga terjadi pemahaman seluruh materi secara utuh dan mendalam.

4)      Selanjutnya, Guru memberikan kuis yang mencangkup seluruh materi dan memberikan penilaian serta member penghargaan.

c)      Lesson Study

Lesson Study bukan metode ataupun pendekatan, melainkan model pembelajaran, sebagai pelatihan untuk meningkatkan profesionalitas guru/dosen dan mutu pembelajran secara berkelanjutan (terus-menerus). Lesson Study berasal dari Jepang, dengan nama jugyokenkyu. Kata-kata kunci dalam Lesson Study adalah: pembinaan profesi, pengkajian proses pembelajaran, kolaboratif, kolegialitas, komunitas belajar, mutual learning, dan berkelanjutan. Pada dasarnya yang dimaksud dengan Lesson Study adalah model pembelajaran aktif, dengan tiga langkah besar: plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (melihat kembali).

Berikut ini penjelasan singkatnya :

1)      Plan, adalah kegiatan merencanakan proses pembelajaran, dengan membuat suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP disusun oleh Dosen Model bersama para anggotannya (beberapa orang). Mereka menyusun RPP melalui diskusi untuk menetapkan pokok bahasan, keluasan dan kedalaman materi, metode, media, dan prasarana serta sarana yang diperlukan. Dalam menyusun/mendiskusikan RPP disaksikan oleh para Pengamat (beberapa orang) dan Tim Monev In (Monitoring dan Evaluasi Internal). Adapun monitor dari luar (Dikti) biasannya hanya hadir pada kegiatan Do dan See.

2)      Do, adalah pelaksanaan pembelajaran, yang dilaksanakan oleh Dosen Model, disaksikan para anggota, dan Pengamat, serta Tim Monev (internal dan/atau eksternal). Dalam melaksanakan proses pembelajaran ini Dosen Model dapat memilih model pembelajaran tertentu , antara lain dapat menggunakan model jigsaw sebagaimana yang telah dipaparkan di muka.

3)      See, adalah proses melihat kembali apa yang telah dilaksanakan dalam do, yang dipimpin oleh seorang Moderator; dimulai dengan refleksi oleh Dosen Model, kemudian dilengkapi oleh para Dosen Anggota, dan ditanggapi, dikritisi, serta diberi masukan/saran oleh para Pengamat. Berdasar pada tanggapan, kritikm dan saran tersebut, Dosen Model bersama para anggotannya menyusun RPP berikutnya dengan berbagai perbaikan dan pengembangan. Dengan demikian proses pembelajaran diharapkan makin bermutu secara meningkat. Dalam See, dihadiri pula oleh Tim Monev dari dalam maupun luar, namun Tim Monev dari dalam biasannya tidak boleh memberi komentar.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bab pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran aktif adalah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang melibatkan para pelajar dalam melakukan sesuatu hal dan memikirkan tentang apa yang sedang mereka lakukan.
  2. Pembelajaran aktif diturunkan dari dua asumsi dasar yaitu bahwa belajar pada dasarnya suatu proses yang aktif dan bahwa orang yang berbeda, belajar dalam cara-cara yang berbeda pula.
  3. Ada beberapa alasan menggunakan pembelajaran aktif yaitu ; memiliki pengaruh yang kuat pada pembelajaran si belajar; strategi-strategi pengembangan pembelajaran aktif lebih mampu meningkatkan ketrampilan berfikir para pelajar dari pada peningkatan penguasaan isi; melibatkan para pelajar dalam tugas-tugas berfikir tingkat lebih tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi; berbagai gaya belajar dapat dilayani dengan sebaik-baiknya dengan melibatkan para pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajar aktif.
  4. Penggunaan pembelajaran aktif membawa beberapa keuntungan seperti; para pelajar yang aktif menggunakan pengetahuan utama mereka dalam membentuk pemahaman dari isi materi pembelajaran; para pelajar yang aktif berfikir secara kritis dan menciptakan pengembangan mereka sendiri; para pelajar yang aktif  terlibat secara kognitif; dan para pelajar yang aktif menerapkan suatu strategi membaca dan belajar lingkup yang luas.
  5. SARAN
    1. Pembelajaran aktif dengan berbagai kelebihan yang dimiliki hendaknya dapat diterapkan di sekolah.
    2. Guru diharapkan memahami betul tentang pembelajaran aktif sebelum menerapkannya dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Soegeng Ysh., A.Y. 2012, Pengembangan Sistem Pembelajaran, Semarang, IKIP PGRI Semarang Press.

izaskia.files.wordpress.com/2010/03/makalah-active-learning.doc diunduh 28 Mei 2012

Makalah Dampak Akreditasi Sekolah

DAMPAK AKREDITASI SEKOLAH

DALAM PENINGKATAN KINERJA SEKOLAH

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Individu

Mata Kuliah  Manajeman Pendidikan dan Akreditasi Sekolah

 Yang Diampu Oleh

Dr. Yovitha Yuliejatiningsih, M.Pd. dan Trimo, S.Pd. M.Pd.

Oleh :

HABIBI      11510035

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

 PROGRAM PASCASARJANA (S2)

IKIP PGRI SEMARANG

2012

i

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadhirat Allah SWT atas selesainya penyusunan makalah ini.

Makalah ini membahas tentang Dampak akreditasi sekolah dalam Peningkatan Kinerja Sekolah terdiri atas Bab I Pendahuluan meliputi;  Latar Belakanng, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan , Bab II Pembahasan meliputi ; Hubungan Akreditasi sekolah dan Peningkatan Kinerja sekolah, Dampak Akreditasi Sekolah Dalam Peningkatan Kinerja Sekolah , Bab III Penutup berisi Kesimpulan dan Saran.

Makalah disusun untuk memenuhi tugas  UTS mata kuliah Manajemen Pendidikan dan Akreditasi Sekolah  yang diampu oleh Dr. Yovitha Yuliejatiningsih, M.Pd. dan Trimo. S.Pd., M.Pd.

Makalah ini sangat jauh dari sempurna, hal ini disebabkan karena keterbatasan sumber dan kemampuan yang penyusun miliki. Namun demikian kami berharap makalah ini membawa manfaat dan tambahan pengetahuan khususnya bagi kami dan umumnya para pembaca. Amin.

Batang,  Desember  2012

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul            ……………………………………………………….            i

Kata Pengantar           ………………………………………………………..           ii

Daftar Isi                     ………………………………………………………..          iii

Bab I. Pendahuluan       ……………………………………………………..            1

  1. Latar Belakang            ……………………………………………….            1
    1. Rumusan Masalah       ……………………………………………….             2
    2. Tujuan Penulisan         ……………………………………………….             3

Bab II. Pembahasan                ……………………………………………….             4

  1. Hubungan Akreditasi sekolah dan Peningkatan Kinerja sekolah        .             4
  2. Dampak Akreditasi Sekolah Dalam Peningkatan Kinerja Sekolah      .             6

Bab III. Penutup         ………………………………………………………

  1. Kesimpulan     ………………………………………………………              8
  2. Saran               ………………………………………………………              8

Daftar Pustaka                        ………………………………………………………             9

iii

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Akreditasi sekolah  merupakan  kegiatan penilaian  yang dilakukan oleh pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sebagai bentuk akuntabilitas publik yang  dilakukan secara obyektif, adil, transparan  dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan.

Latar belakang adanya  kebijakan akreditasi   sekolah di   Indonesia adalah bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, maka setiap satuan/program pendidikan harus memenuhi atau melampaui standar yang dilakukan melalui kegiatan akreditasi terhadap kelayakan setiap satuan/program pendidikan.

Tujuan diadakannya kegiatan akreditasi sekolah/madrasah ialah:

  1. Memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/madrasah atau program yang dilaksanakannya berdasarkan Standar Nasional Pendidikan.
  2. Memberikan pengakuan peringkat kelayakan.
  3.  Memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu pendidikan kepada  program dan atau satuan pendidikan yang diakreditasi dan pihak terkait.

Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Dapat dijadikan sebagai acuan dalam upaya peningkatan mutu Sekolah/Madrasah dan rencana pengembangan Sekolah/Madrasah.
  2. Dapat dijadikan sebagai motivator agar Sekolah/Madrasah terus meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap, terencana, dan kompetitif baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional bahkan regional dan internasional.

1

  1. Dapat dijadikan  umpan balik dalam usaha pemberdayaan dan pengembangan kinerja    warga Sekolah/Madrasah dalam rangka menerapkan visi,  misi, tujuan, sasaran, strategi  dan program Sekolah/Madrasah.
  2. Membantu mengidentifikasi Sekolah/Madrasah dan program dalam rangka pemberian bantuan pemerintah, investasi dana swasta dan donatur atau bentuk bantuan lainnya.
  3. Bahan informasi bagi Sekolah/Madrasah  sebagai masyarakat belajar untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga dan dana.
  4. Membantu Sekolah/Madrasah dalam menentukan dan mempermudah kepindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain, pertukaran guru dan kerjasama yang saling menguntungkan.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan betapa pentingnya akreditasi sekolah bagi upaya peningkatan mutu dan layanan serta penjaminan mutu sebuah satuan pendidikan.

Dalam kenyataan di lapangan bahwa akreditasi sekolah lebih banyak dimaknai untuk memperoleh status dan pengakuan secara formal saja. Sementara makna sesungguhnya belum banyak diketahui dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh. Ini terbukti bahwa kinerja sekolah akan meningkat ketika akan dilakukan kegiatan akreditasi dengan menyiapkan seluruh perangkat administrasi sesuai dengan instrument yang ada, sementara setelah akreditasi berlangsung dan memperoleh sebuah pengakuan maka kinerja dari komponen sekolah kembali seperti semula. Hal inilah yang menjadi keprihatinan, maka tulisan ini akan membahas dampak akreditasi sekolah dalam peningkatan kinerja sekolah.

  1. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa hubungan akreditasi sekolah dengan peningkatan kinerja sekolah?
  2. Apa dampak akreditasi sekolah dalam peningkatan kinerja sekolah?

2

  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah adalah untuk mengetahui hubungan antara akreditasi sekolah dengan peningkatan kinerja sekolah dan apa dampak dari akreditasi sekolah dengan peningkatan kinerja sekolah.

3

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Hubungan Akreditasi Sekolah Dan Peningkatan Kinerja Sekolah

Akreditasi sekolah adalah kegiatan penilaian (asesmen) sekolah secara sistematis dan komprehensif melalui kegiatan evaluasi diri dan evaluasi eksternal (visitasi) untuk menentukan kelayakan dan kinerja sekolah.

Dasar hukum akreditasi sekolah utama adalah : Undang Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 60, Peraturana Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Pasal 86 & 87 dan Surat Keputusan Mendiknas No. 87/U/2002.

Sedangkan tujuan dari Akreditasi sekolah bertujuan untuk : (a) menentukan tingkat kelayakan suatu sekolah dalam menyelenggarakan layanan pendidikan dan (b) memperoleh gambaran tentang kinerja sekolah.

Fungsi akreditasi sekolah adalah : (a) untuk pengetahuan, yakni dalam rangka mengetahui bagaimana kelayakan & kinerja sekolah dilihat dari berbagai unsur yang terkait, mengacu kepada baku kualitas yang dikembangkan berdasarkan indikator-indikator amalan baik sekolah, (b) untuk akuntabilitas, yakni agar sekolah dapat mempertanggungjawabkan apakah layanan yang diberikan memenuhi harapan atau keinginan masyarakat, dan (c) untuk kepentingan pengembangan, yakni agar sekolah dapat melakukan peningkatan kualitas atau pengembangan berdasarkan masukan dari hasil akreditasi.

Prinsip – prinsip akreditasi yaitu : (a) objektif, informasi objektif tentangg kelayakan dan kinerja sekolah, (b) efektif, hasil akreditasi memberikan informasi yang dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, (c) komprehensif, meliputi berbagai aspek dan menyeluruh, (d) memandirikan, sekolah dapat berupaya meningkatkan mutu dengan bercermin pada evaluasi diri, dan (d) keharusan (mandatori), akreditasi dilakukan untuk setiap sekolah sesuai dengan kesiapan sekolah

Sistem akreditasi memiliki karakteristik : (a) keseimbangan fokus antara kelayakan dan kinerja sekolah, (b) keseimbangan antara penilaian internal dan eksternal, dan (d) keseimbangan antara penetapan formal peringkat sekolah dan umpan balik perbaikan

4

Akreditasi sekolah dilaksanakan mencakup : (a) Lembaga satuan pendidikan (TK, SD, SMP, SMA) dan (b) Program Kejuruan/kekhususan (SDLB, SMPLB, SMALB, SMK)

Akreditasi sekolah mencakup penilaian terhadap sembilan komponen sekolah, yaitui (a) kurikulum dan proses belajar mengajar; (b) administrasi dan manajemen sekolah; (c) organisasi dan kelembagaan sekolah; (d) sarana prasarana (e) ketenagaan; (f) pembiayaan; (g) peserta didik; (h) peranserta masyarakat; dan (1) lingkungan dan kultur sekolah. Masing-masing kompoenen dijabarkan ke dalam beberapa aspek. Dari masingmasing -aspek dijabarkan lagi kedalam indikator. Berdasarkan indikator dibuat item-item yang tersusun dalam Instrumen Evaluasi Diri dan Instrumen Visitasi.

Akreditasi dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut : (a) pengajuan permohonan akreditasi dari sekolah; (b) evaluasi diri oleh sekolah; (c) pengolahan hasil evaluasi diri ; (d) visitasi oleh asesor; (e) penetapan hasil akreditasi; (f) penerbitan sertifikat dan laporan akreditasi.

Dalam mempersiapkan akreditasi, sekolah melakukan langkah-langkah sebagai berikut : (a) Sekolah mengajukan permohonan akreditasi kepada Badan Akreditasi Propinsi (BAP)-S/M untuk SLB, SMA, SMK dan SMP atau kepada Unit Pelaksana Akreditasi (UPA) Kabupaten/Kota untuk TK dan SD Pengajuan akreditasi yang dilakukan oleh sekolah harus mendapat persetujuan atau rekomendasi dari Dinas Pendidikan; (b) Setelah menerima instrumen evaluasi diri, sekolah perlu memahami bagaimana menggunakan instrumen dan melaksanakan evaluasi diri. Apabila belum memahami, sekolah dapat melakukan konsultasi kepada BAN-SM mengenai pelaksanaan dan penggunaan instrumen tersebut; (c) Mengingat jumlah data dan informasi yang diperlukan dalam proses evaluasi diri cukup banyak, maka sebelum pengisian instrumen evaluasi diri, perlu dilakukan pengumpulan berbagai dokumen yang diperlukan sebagai sumber data dan informasi.

5

 

Berdasarkan berbagai hal di atas maka ada hubungan yang sangat erat antara pelaksaaan akreditasi sekolah dengan upaya peningkatan kinerja sekolah. Sekolah yang akan dilakukan akreditasi maka seluruh komponen yang terlibat di dalamnya baik kepala sekolah, guru, staf tata usaha, komite sekolah, siswa dan stake holder lainnya harus benar-benar bekerjasama dan meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Apabila setiap komponen yang terlibat bekerja sesuai dan memenuhi instrument akreditasi maka akan ada peningkatan kinerja dari sekolah itu.

Pengalaman dari penulis yang sekolahnya pernah dilakukan akreditasi maka sebelum dilakukan akreditasi, sekolah melakukan berbagai persiapan yaitu dengan membentuk Tim yang membidangi 8 standar yang akan dilakukan penilaian sesuai ketentuan BNSP. Tugas dari masing-masing tim adalah mencermati dan menyiapkan bukti fisik dari indicator dan instrument yang ada dalam penilaian akreditasi tersebut. Melalui bimbingan dari pengawas sekolah yang ditunjuk sebagai pendamping maka semua komponen sekolah yang terlibat menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan prosedur yang ada setelah semua persiapan dianggap cukup maka sekolah mengisi instrument akreditasi sebagai bentuk  melakukan evaluasi diri dan dikirimkan ke badan akreditasi sekolah/madrasah tingkat provinsi. Selanjutnya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh BAS/M provinsi ditindaklunjuti dengan visitasi atau penilaian. Proses menyiapkan diri untuk diakreditasi inilah yang terlihat adanya upaya sekolah untuk meningkatkan kinerja sekolah yaitu masing-masing warga sekolah bekerja sesuai dengan indicator dan instrument akreditasi yang ada dengan harapan untuk memperoleh penilaian kinerja yang terbaik.

  1. Dampak Akreditasi Sekolah Dalam Peningkatan Kinerja Sekolah

Dampak  Akreditasi sekolah dalam peningkatan kinerja sekolah menunjukkan hal yang signifikan. Dengan adanya akreditasi sekolah mengharuskan stake holder yang ada dalam suatu sekolah menyiapkan segala bentuk perangkat yang akan dinilai untuk memenuhi kriteria seperti yang diharapkan. Adapun dampak yang lain dapat berupa dampak yang bersifat positif dan dampak yang berakibat negative.

Dampak positif dari akreditasi sekolah antara lain:

  1. Tumbuhnya kesadaran dari warga sekolah untuk meningkatkan kinerja sesuai dengan tupoksinya masing-masing baik sebagai kepala sekolah, guru, staf TU, siswa dan komite sekolah.

6

  1. Tumbuhnya kesadaran dari warga sekolah untuk memberikan dan meningkatkan pelayanan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dalam proses akreditasi.
  2. Tumbuhnya kesadaran bekerjasama seluruh komponen sekolah untuk mendapatkan  penilaian yang terbaik terkait hasil dari akreditasi.
  3. Mengetahui kekurangan yang dimiliki oleh sekolah sebagai bahan perbaikan dan pembinaan sekolah ke depan.
  4. Tumbuhnya kesadaran meningkatkan mutu pendidikan melalui pencapaian standar yang telah ditetapkan.
  5. Tumbuhnya kebanggaan dari segenap warga sekolah  dan mempertahankan hasil akreditasi apabila telah memperoleh yang terbaik misalnya terakreditasi A.

Dampak negative dari akreditasi sekolah antara lain:

  1. Peningkatan kinerja dari komponen sekolah hanya sebatas ketika akan dilakukan akreditasi sementara setelah selesai akan kembali seperti semula.
  2. Adanya berbagai macam rekayasa data hanya sekedar untuk memenuhi penilaian sementara pada proses yang sebenarnya tidak dilakukan seperti dalam pembuatan bukti-bukti fisik.
  3. Status akreditasi kurang membawa pengaruh bagi pembinaan sekolah karena hanya sekedar member status dan label.

7

BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan akreditasi sekolah akan memacu komponen  sekolah untuk meningkatkan kinerja dan meningkatkan pelayanan, karena kinerja sekolah akan dinilai sesuai dengan criteria berdasarkan indicator dan instrument yang ada. Penilaian Akreditasi sekolah membawa dampak positif terhadap warga sekolah untuk tumbuhnya kesadaran memberikan pelayanan yang terbaik dan melakukan pemenuhan berbagai standar yang telah ditetapkan. Penilaian akreditasi sekolah juga menjadikan tumbuhnya kerjasama diantara warga sekolah untuk memperoleh status akreditasi yang terbaik.

Penilaian akreditasi juga bisa berdampak negative manakala warga sekolah hanya berusaha untuk memperoleh nilai dan status akan tetapi untuk memperolehnya dengan cara melakukan rekayasa data, akibatnya setelah penilaian akreditasi sekolah selesai akan kembali seperti semula dan baru akan tumbuh semangatnya kembali saat akan diakreditasi.

  1. Saran

Kepada seluruh komponen sekolah supaya selalu meningkaatkan kinerja dan memberikan layanan yang terbaik, dengan tidak terpengaruh apakah sekolahnya akan diakreditasi atau tidak. Budaya peningkatan mutu dan semangat dalam memberikan layanan seharusnya dipelihara setiap saat tanpa harus menunggu adanya akreditasi sekolah.

8

DAFTAR PUSTAKA

Undang Undang No. 20 Tahun 2003  Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 52 tahun 2008 Kriteria Dan Perangkat
Akreditasi SMA/MA.

9