PENDEKATAN MODAL MANUSIA

DAN INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN

Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas

  Mata Kuliah Manajemen  Sumberdaya Pendidikan

 

 Dosen Pengampu:

Dr. Nurkolis, M.M dan Dr. Noor Miyono, M.Si.

 

Oleh   :

 

                                  HABIBI      :      11510035

 

 

PRODI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PASCA SARJANA IKIP PGRI SEMARANG

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sebuah upaya yang dapat mempercepat pengembangan SDM untuk mampu mengemban tugas yang dibebankan kepadanya. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor sangat penting dalam kehidupan manusia masa akan datang, sebab pendidikan merupakan suatu proses pembentukan manusia untuk menumbuh kembangkan potensi yang ada. Sangat jelas dinyatakan dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Pasal 3, fungsi dan tujuan pendidikan nasional adalah penyelenggaraan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri.

Pengembangan Sumberdaya manusia melalui pendidikan sebagai sebuah investasi membutuhkan dana atau pembiayaan yang bersifat jangka panjang. Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Ada anggapan bahwa pembicarakan pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan.Johns dan Morphet (1970:85) “Mengemukakan bahwa pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi dan negara modern. Dikemukakan hasil penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pendidikan merupakan a major contributor terhadap pertumbuhan ekonomi”. Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponen, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaannya, akutabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-permasalahan yang masih terkait dengan pembiayaan pendidikan. Tulisan ini akan membahas Pendekatan modal manusia dalam pengaturan dan pembiayaan pendidikan serta investasi sumberdaya daya manusia melalui pendidikan.

BAB II

PENDEKATAN MODAL MANUSIA DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN

  1. Kajian Teori

Teori ini menyatakan pendidikan sebagai saham pribadi dari modal manusia yang normalnya diperoleh selama masa muda. Pencapaian pendidikan memiliki arti sebagai penerimaan investasi. Pencapaian pendidikan merupakan komitmen sumber-sumber pribadi yang meliputi nilai masa muda dan masa tua yang mengabdikan diri kepada sekolah dan pendidikan anak-anak mereka. Imbalan dari investasi pendidikan adalah imbalan pribadi, menjadi subyek dari resiko dan ketidakpastian yang ditanggung juga secara pribadi. Teori modal manusia berhubungan dengan ilmu ekonomi tentang alokasi waktu dan pengaruh mendalam dari pendidikan dalam waktu, pendapatan, konsumsi, pernikahan, kesehatan, kepercayaan diri, kemampuan dan kepuasan personal. Teori ini juga bermanfaat dalam menentukan efek pendidikan pada distribusi pendapatan seseorang dan jaringan antar generasi (Tomes 1981).

Teori modal manusia bukan tentang skala optimal sekolah dan sistemnya, bukan juga tentang distribusi pendapatan seseorang yang layak dalam pendidikan. Juga bukan sebagai solusi permasalahan insentif guru yang kecil. Teori ini tidak mengarah pada studi efek buruk penyangkalan otoritas orang tua dalam keputusan-keputusan sekolah yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas ketersediaan sekolah bagi anak-anak mereka.

  1. Sekilas Pandang tentang Keuntungan Pendidikan

Produktifitas yang dinamis membuat tingkat keuntungan pendidikan cenderung melebihi tingkat keuntungan modal fisik. Sebagai jawaban dari perbedaan keuntungan ini pertumbuhan persediaan modal manusia yang sebagian besar adalah pendidikan lebih tinggi dari pertumbuhan modal fisik. Saham pemasukan properti menurun  dari sekitar 45 menjadi 20 persen sedangkan buruh yang meliputi semua pelayanan di sektor pasar, meningkat dari 55 menjadi 80 persen. Ketidaksamaan dalam distribusi pendapatan perorangan menurun seperti halnya konsekuensi perubahan di faktor asset.

Seluruh perolehan tersebut menghapus pendidikan kontribusi non pasar di produksi rumah tangga, pengasuhan anak, pemerolehan kesehatan anggota  keluarga, pembelian barang konsumsi dan jasa, penghitungan kualitas pendidikan yang diterima anak, dan yang terpenting adalah penentuan kompetensi sosial dan kualitas gaya hidup. Tak ada satupun dari nilai non-pasar di atas masuk dalam tingkat moneter keuntungan pendidikan yang berasal dari sektor aktifitas pasar.

2.Sekolah yang Semakin Efisien adalah Sarana Utama dalam Memperoleh Equitas dan Pembelajaran Anak

Permasalahan yang muncul di sekolah – sekolah negeri adalah ketidakefisienan. Banyak sistem sekolah di kota besar memiliki performa yang buruk. Para guru mendapatkan insentif yang tidak mencukupi. Sekolah untuk anak tidak memadai. Reformasi pendidikan sebagai mandat dari negara ditegakkan dengan menempatkan anak dalam bahaya. Orang tua mengetahui kalau kualitas sekolah anak mereka buruk tapi mereka hanya dapat berbuat sedikit kecuali jika mereka berpindah tempat tinggal atau beralih ke sekolah swasta dan membayar pajak serta iuran pendidikan.

Prinsip saling melengkapi antara efisiensi dan equitas di sekolah dasar dan menengah terabaikan dalam pencarian equitas. Tingkat optimal efisiensi di sistem sekolah yang besar akan berkontribusi lebih banyak pada penyebab equitas dibandingkan reformasi di sekolah manapun yang sedang diberlakukan.

Keuangan publik juga mengalami permasalahan. Kenyamanan dalam defisit keuangan tidak lagi meyakinkan. Nilai pendidikan tidak bisa lagi diragukan. Terdapat seni menguangkan pendidikan. Tapi terjadi juga kebingungan dalam menggunakan nilai pendidikan dan keuangan pendidikan dalam menyelesaikan masalah di pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sedikit sekali persetujuan terjadi dalam permasalahan ini. Prospek penyelesaian permasalah masih suram sampai kita dapat mengidentifikasinya dengan jelas dan tepat. Meskipun konsep efisiensi dan equitas cukup relevan untuk tujuan ini, namun hal itu tidaklah mencukupi.

3.Pendidikan sebagai Modal Manusia dan Atributnya

Pendidikan adalah kemampuan personal yang dipelajari. Hal ini menjadi unik ketika kita memilikinya, tak seorangpun dapat mengambilnya. Kita juga tidak dapat menyingkirkannya. Kita menyebutnya modal kemampuan yang diperoleh karena ia memberikan jasa berharga dan menjadi investasi. Kita menyebutnya modal manusia karena diwujudkan pada manusia. Kita sadar bahwa tak ada seorangpun yang dapat menjual modal pendidikannya. Dia juga tidak bisa menjual dirinya sendiri karena hal itu berarti perbudakan. Dia juga tidak bisa mentransfer pendidikannya kepada orang lain. Itu merupakan modal manusia miliknya dan digunakan selama dia hidup. Modal fisik berbeda dengan modal manusia. Kepemilikan modal fisik diatur oleh hak-hak properti. Seperti halnya properti yang bisa dijual, modal fisik bisa ditransfer sebagai pemberian kepada individu lain. Seperti pabrik, peralatan, rumah dan inventaris yang bisa hancur. Properti pribadi menjadi subyek pajak tahunan, menjadi warisan atau bisa juga disita pemerintah. Pada masa Perang Dunia II jumlah modal manusia di Jerman dan Jepang kurang terganggu dibandingkan jumlah modal fisik. Para pengungsi membawa serta modal manusia mereka saat melarikan diri mencari keamanan. Tembok-tembok dibangun untuk mencegah pelarian; migrasi keluar diawasi bahkan dilarang. Pada tingkat ekstrim, pemerintah tidak bisa menyita modal manusia meskipun nilainya bisa dihancurkan.

Jasa modal manusia dan fisik memiliki banyak atribut ekonomi sama seperti ketika kita menganggap kontribusi jasa ini dalam produksi dan konsumsi. Mereka saling melengkapi di banyak poin pada aktifitas ekonomi; mereka bisa juga saling menggantikan. Buruh dengan keahlian tinggi menjadi esensial pada aktifitas ekonomi moderen misalnya pada proses produksi dan pengoperasian komputer. Modal fisik kadang menjadi substitusi bagi buruh; traktor mengurangi buruh ladang yang dibutuhkan. Bahkan traktor yang lebih moderen memerlukan operator yang berketrampilan tinggi. Kondisi saling melengkapi dan saling menggantikan antara modal fisik dan manusia pada produksi dan konsumsi rumah tangga pada prinsipnya sama dengan produksi di sektor pasar.

BAB III

INVESTASI SUMBERDAYA MANUSIA DALAM PENDIDIKAN

  1. Latar Belakang

Investasi dapat dilakukan bukan saja pada fisik, tetapi juga pada bidang non fisik. Investasi fisik meliputi bangunan pabrik dan perumahan karyawan, mesin-mesin dan peralatan, serta persediaan (bahan mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi). Investasi non fisik meliputi pendidikati, pelatihan, migrasi, pemeliharaan kesehatan dan lapangan kerja. Investasi non fisik  lebih dikenal dengan investasi sumber daya  manusia adalah sejumlah dana yang dikeluarkan dan kesempatan memperoleh penghasilan selama proses investasi. Penghasilan selama proses investasi ini sebagai  imbalannya dan diharapkan memperoleh tingkat penghasilan yang lebih tinggi untuk mampu mencapai tingkat konsumsi yang lebih tinggi pula. Investasi yang demikian    disebut dengan human capital (Payaman J. Simanjuntak, 1985). Istilah modal manusia (human capital) ini dikenal sejak tiga puluh tahun lalu ketika Gary S. Becker, seorang penerima Nobel di bidang ekonomi membuat sebuah buku yang berjudul Human Capital (Becker, 1964 dalam AgusIman Solihin, 1995).

Setelah Theodore W. Schult dan ekonom lain mulai membahas dampak investasi sumber daya manusia bagi pertumbuhan ekonomi barulah hal ini diperhatikan.  Pembahasan mengenai masalah ini, hubungan investasi sumber daya manusia dengan produktivitas mulai santer terutama setelah munculnya Gary S. Becker dengan analisisnya mengenai Human Capital tersebut (Warsito Jati, 2002).

Sumber daya manusia sebagai salah satu factor produksi selain sumber days alam, modal, entrepreneur untuk menghasilkan output. Semakin tinggi kualitas sumber days manuals, maka semakin meningkat pula efisiensi dan produktivitas suatu negara. Sejarah mencatat bahwa negara yang menerapkan paradigma pembangunan berdimensi manusia telah mampu berkembang meskipun tidak memiliki kekayaan sumber daya  alam yang berlimpah.

Penekanan pada investasi manusia diyakini merupakan basis dalam meningkatkan produktivitas faktor produksi secara total. Tanah, tenaga kerja, modal fisik bisa saja mengalami diminishing return, namun ilmu pengetahuan tidak.

Robert M. Solow menekankan kepada peranan ilmu pengetahuan dan investasi  modal sumber daya manusia dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Dad teori Solow ini kemudian dikembangkan teori baru pertumbuhan ekonomi yang dikenal sebagai The New Growth Theory. (H. A. R. Tilaar, 2000)

Beberapa faktor yang menyebabkan perlunya mengembangkan tingkat pendidikan di dalam usaha untuk membangun suatu perekonomian, adalah:

1. Pendidikan yang lebih tinggi memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi rasionalitas  pemikiran mereka. Hal ini memungkinkan masyarakat mengambil langkah yang lebih rasional dalam bertindak atau mengambil keputusan.

2. Pendidikan memungldnkan masyarakat mempelajari pengetahuan-pengetahuan teknis yang diperlukan untuk memimpin dan menjalankan perusahaan-perusahaan modern dan kegiatan-kegiatan modern lainnya.

3. Pengetahuan yang lebih baik yang diperoleh dari pendidikan menjadi perangsang untuk menciptakan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang teknik, ekonomi dan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat lainnya.

Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat. Menyadari pentingnya peran pendidikan, maka dam tulisan ini akan dibahas mengenai investasi sumber daya manusia melalui pendidikan.

  1. Pembahasan
  2. Teori Human Capital

Asumsi dasar teori Human Capital adalah bahwa seseorang dapat meningkatkan penghasilannya melalui peningkatan pendidikan. Setiap tambahan satu tahun sekolah berarti, di satu pihak, meningkatkan kemampuan kerja dan tingkat penghasilan seseorang, tetapi di pihak lain, menunda penerimaan penghasilan selama satu tahun dalam mengikuti sekolah tersebut. Di samping penundaan menerima penghasilan tersebut, orang yang melanjutkan sekolah harus membayar biaya secara langsung. Maka jumlah penghasilan yang diterimanya seumur hidupnya, dihitung dalam nilai sekarang atau  Net Present Value.

Present Value ini dibedakan dalam dua hal, yaitu apabila pendidikannya hanya sampaiSMA atau melanjutkan kuliah di perguruan tinggi sebelum bekerja (Bruce E. Kaufman dan Julie L. Hotchkiss, 1999).

  1. Keputusan Berinvestasi

Telah diketahui bahwa peningkatan mutu modal manusia tidak dapat dilakukan dalam tempo yang singkat, namun memerlukan waktu yang panjang. Investasi modal manusia sebenamya sama dengan investasi faktor produksi lainnya. Dalam hal ini jugs diperhitungkan rate of return (manfaatnya) dari investasi pada modal manusia. Bila seseorang akan melakukan investasi, maka ia harus melakukan analisa biaya manfaat  (cost benefit analysis). Biayanya adalah berupa biaya yang dikeluarkan untuk bersekolah dan opportunity cost dari bersekolah adalah penghasilan yang diterimanya bila ia tidak bersekolah. Sedangkan manfaatnya adalah penghasilan  (return) yang akan diterima dimasa depan setelah masa sekolah selesai. Diharapkan dari investasi ini manfaat yang diperoleh jauh lebih besar daripada biayanya.

Berdasarkan perspektif investasi modal manusia, keputusan untuk langsung bekerja maupun melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terlebih dulu didasarkan pada keuntungan yang diterima dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan selama melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan gambar berikut :

Gambar 1

 

Dari gambar tersebut ada dua strategi berinvestasi,yaitu :

1. Menyelesaikan SMA-nya (pada usia 18 tahun) dan pada usia itu pula memutuskan untuk langsung bekerja sampai berusia 65 tahun. Hal ini digambarkan oleh kurva SMA.

2. Melanjutkan kuliah selepas SMA pada usia 18 tahun sampai 21 tahun dan barn bekerja pada usia 22 tahun sampai usia 65 tahun. Hal ini digambarkan oleh kurva Perguruan Tinggi.

Biaya yang dikeluarkan untuk kuliah di perguruan tinggi ada dua tipe. Pertama, biaya langsung yang dikeluarkan, meliputi biaya SPP, biaya untuk pembelian buku dan biaya-biaya lain (termasuk biaya hidup apabila melanjutkan kuliah di luar kota atau di luar negeri). Dari gambar tersebut biaya langsung ada di area b . Jumlah biaya langsung tergantung pada banyak faktor misalnya apakah kuliah di universitas negeri atau swasta, apakah memperoleh beasiswa atau tidak dan sebagainya.

Tipe kedua adalah opportunity cost jika melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Yaitu pendapatan yang hilang karena melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.  Opportunity cost ini digambarkan di area a. Jumlah pendapatan yang hilang ini tergantung apakah . bekerja secara paruh waktu  (part time) atau penuh (full time).

Keuntungan yang diperoleh apabila melanjutkan kuliah di perguruan tinggi adalah pendapatan yang tinggi di kemudian hari sesuai dengan tingkat pendidikan yang diperolehnya. Jadi di sini ada gap pendapatan antara lulusan SMA dan lulusan perguruan tinggi, dari gambar ditunjukkan oleh kurva SMA yang semakin menurun dan berada dibawah kurva perguruan tinge. Sedangkan kurva perguruan tinggi semakin meningkat.

  1. Manfaat dan Biaya Sosial Serta Manfaat dan Biaya Individual

Biaya sosial adalah opportunity cost yang harus ditanggung oleh masyarakat seluruhnya sebagai akibat dari adanya keinginan atau kesediaan masyarakat tersebut untuk membiayai perluasan pendidikan tinggi yang mahal dengan dana yang mungkin akan menjadi lebih produktif apabila digunakan pada sektor-sektor ekonomi yang lain. Antara biaya sosial dan biaya individual akan terdapat kesenjangan, sehingga akan lebih memacu tingkat permintaan atas pendidikan yang lebih tinggi. Tetapi, penciptaan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi akan mengakibatkan lonjakan biaya sosial yang ditanggung oleh masyarakat. Masyarakat jugs harus menanggung biaya sosial yang berupa semakin memburuknya alokasi sumber daya yang pada akhirnya akan menyusutkan persediaan dana dan kesempatan untuk menciptakan kesempatan kerja langsung atau untuk menjalankan program pembangunan lainnya. Sedikit demi sedikit pendidikan tinggi bukan lagi menjadi alat, melainkan menjadi tujuan itu sendiri (Michael. P. Todaro, 2000).

Manfaat dan biaya sosial serta manfaat dan biaya individual dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

Gambar 2 menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula penghasilan yang diharapkannya sehingga lebih besar dari biaya- biaya pribadi yang harus dikeluarkannya. Untuk memalcsimalkan selisih antara pendapatan yang diharapkan dengan biaya-biaya yang diperkirakan akan muncul  (private rate of return to investment in education), maka strategi optimal yang tersedia bagi orang yang bersangkutan adalah dengan berusaha menempuh pendidikan yang setinggi mungkin.

Gambar 3 menunjukkan bahwa kurva manfaat sosial yang semula menanjak secara tajam. Gerakan ini mencerminkan terjadinya perbaikan tingkat produktivitas dari mereka yang mempunyai pendidikan dasar. Kemudian kurva manfaat sosial terus saja meningkat dengan naiknya tingkat pendidikan meskipun dengan laju pertumbuhan yang semakin menurun. Sebaliknya, kurva biaya sosial menunjukkan tingkat pertumbuhan yang rendah pada awal tahun pendidikan dasar dan kemudian tumbuh semakin cepat untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Ikutnya dana publik  (social cost) ke dalam pembiayaan pendidikan menjadikan keuntungan sosial (social benefit) layak dipertimbangkan sebagai tolok ukur efektivitas investasi modal manusia. Dengan kata lain, subsidi pendidikan kepada seorang siswa semestinya bernilai secara efektif untuk masyarakat. Selain manfaat sosial, pendidikan juga memberi manfaat individu (private benefit) melalui pendapatan atau akses kepada pekerjaan yang layak. Nilai manfaat sosial pendidikan tinggi cenderung meningkat, meski dengan pertumbuhan relatif lambat. Secara teoritis ada dua hal yang dapat diinterpretasikan dari peningkatan nilai manfaat ini. Pertama, peningkatan nilai manfaat disebabkan penawaran pendidikan tinggi (supply of higher education) masih belum mencapai titik jenuh, sehingga setiap unit peningkatan penawaran masih memberi  return yang positif (belum mencapai excess supply). Kedua, terjadinya perubahan struktur ekonomi dan tenaga kerja di mana permintaan akan tenaga kerja lulusan perguruan tinggi kian besar yang mendorong lulusan kelompok ini menerima tingkat upah di atas tingkat upah yang kompetitif. Tingkat upah yang tinggi tentu akan memperbesar sumbangan pada negara melalui pajak dan ini mendorong meningkatnya manfaat sosial (Teguh Yudo Wicaksono, 2004).

  1. Nilai Balikan (Rate of Return) Pendidikan

Pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return) (lik Nurul Paik,2004). Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan nilai total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja (Nurkolis, 2002).

Di negara-negara berkembang, umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi daripada investasi modal fisik yaitu 20 % disbanding15 %. Sedangkan di negara maju, nilai batik investasi pendidikan lebih rendah disbanding investasi modal fisik yaitu 9 % disbanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relative lebih terbatas jumlahnya dibanding dengan kebutuhan sehingga tingkat  pendapatan lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, 1997 dalam Nurkolis, 2002).

 

  1. Fungsi Investasi dalam Bidang Pendidikan

Investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya dan fungsi kependidikan. Dalam fungsi teknis ekonomis, pendidikan dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi (teori modal manusia). Orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, diukur dengan lamanya waktu untuk sekolah akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang pendidikannya lebih rendah. Apabila upah mencerminkan produktivitas, maka semakin banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi, semakin tinggi produktivitas dan hasil ekonomi nasionalnya akan tumbuh lebih tinggi (Elwin Tobing, 2005). Investasi pendidikan dalam fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin (Yin Cheong Cheng dalam Nurkolis,2002).

Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demokratis. Selain itu, orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggungjawab terhadap bangsa dan negara lebih balk dibandinglcan dengan yang kurang berpendidikan. Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan danperkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional. Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat  (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.

  1. Kondisi Pendidikan di Indonesia

Menurut Boediarso Teguh Widodo (2004) indikator kemajuan sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya pendidikan melalui pendidikan adalah :

Rata-rata lama sekolah penduduk (15 tahun ke atas) naik dari 6,7 tahun (2000) menjadi 7,1 tahun (2003).

Proporsi penduduk (10 tahun ke atas) yang berpendidikan SLTP ke atas naik menjadi 36,21 % (2003).

Angka melek aksara penduduk (usia 15 tahun ke atas) naik menjadi 89,79 %.

Kualitas SDM Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara

lain, hal ini dapat diketahui dari :

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) urutan 112 dari 175 negara.

Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index, GDI) Indonesia

berada di urutan 91 dari 144 negara.

Indeks Pencapaian Teknologi (IPT) Indonesia berada pada urutan ke 60 dari 72 negara.

Program-program utama bidang pendidikan di Indonesia adalah :

Program Wajib Belajar Sembilan Tahun, dengan titik berat :

•  Peningkatan partisipasi anak yang belum mendapatkan layanan pendidikan dasar.

•  Penurunan angka putus sekolah dan angka mengulang kelas, serta meningkatkan kualitas pendidikan.

• Penyediaa tambahan layanan pendidikan bagi anak-anak yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.

Program pendidikan menengah, dengan titik berat :

• Peningkatan penyediaan layanan pendidikan menengah guna menyerap naiknya lulusan pendidikan dasar.

• Penurunan angka putus sekolah dan angka mengulang kelas, serta meningkatkan kualitas pendidikan.

• Penguatan pendidikan vokasi melalui sekolah/madrasah umum dan kejuruan.

Program pendidikan tinggi, dengan titik berat

• Peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing bangsa.

• Peningkatan otonomi dan desentralisasi pendidikan tinggi.

• Peningkatan peluang dan kesehatan organisasi pendidikan tinggi.

Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dengan titik berat :

• Peningkatan rasio pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta

didik.

• Peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan untuk setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan.

• Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan hukum terhadap pendidik dan tenaga

kependidikan.

• Pelembagaan system standarisasi dan sertifikasi kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan

 

BAB IV

PENUTUP

  1. Simpulan

Pendidikan mempunyai tujuan yang lebih dari mempersiapkan seorang pekerja yang produktif. Pendekatan humanisme menuntut proses pendidikan sebagai suatu proses total untuk mengembangkan manusia seutuhnya. Peran ganda pendidikan perlu ditekankan dan diterapkan. Peran tersebut adalah :

1.  Pendidikan berfungsi untuk membina kemanusiaan (human being). Hal ini berarti bahwa pendidikan pada akhirnya dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh pribadi manusia, termasuk mempersiapkan manusia sebagai anggota masyarakatnya, warga negara yang baik dan rasa persatuan (cohesiveness).

2. Pendidikan mempunyai fungsi sebagai  human resources yaitu mengembangkan kemampuannya memasuki era kehidupan baru seperti kompetitif dan employability (H. A. R. Tilaar, 2000).

B. Saran

Mengingat pentingnya peran pendidikan tersebut, maka investasi modal manusia melalui pendidikan di negara berkembang sangat diperlukan walaupun investasi di bidang pendidikan merupakan investasi jangka panjang secara makro, manfaat dari investasi ini baru dapat dirasakan setelah puluhan tahun. Keterbatasan dana mengharuskan adanya penetapan prioritas dari berbagai pilihan kegiatan investasi di bidang pendidikan yangsesuai, dalam jangka panjang akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. Investasi yang menguntungkan adalah investasi modal manusia untuk mempersiapkan kreativitas, produktivitas dan jiwa kompetitif dalam masyarakatnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus Iman Solihin. 1995. Investasi Modal Manusia Melalui Pendidikan : Pentingnya Peran Pemerintah. Mini Economica 23, Jakarta, Him. : 6 — 20

Akhmad Bayhaqi. 2000. Sosial Aspect of Higher Education : The Case of Indonesia. Ekonomi dan Keuangan Indonesia Volume XLVIII Nomor 3. Jakarta, Him. : 215 — 252

Arya Budhiastra Gaduh. 2000. Pendidikan di Indonesia Sebelum dan Selama Krisis. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 322 — 339

Boediarso Teguh Widodo, 2004, Komitmen Pemerintah Untuk Meningkatkan Kualitas SDM Melalui APBN. Disampaikan dalam Seminar Nasional Kebijakan Fiskal di Era Pemerintahan Baru Dalam Rangka Dies Natalie Universitas Diponegoro 26 Oktober 2004.

Ehrenburg, Ronald 0 dan Robert S. Smith. 1999. Modern Labor Economics, Theory and Public Policy. Fifth Edition. Harper Collins Colledge Publishers.

H. A. R Tilaar. 2000. Pendidikan Abad ke-21 Menunjang Knowlegde-Based Economy. Analisis CSIS. Tahun XXIX/2000, No.3, Jakarta, Hlm : 257 – 285

Iik Nurulpaik. 2004. Pendidikan Sebagai Investasi. bttp : //www. pikiran-rakyat.com

Kaufman, Bruce E dan Julie L. Hotchkiss. 1999. The Economics of Labor Markets. Fifth Edition. The Dryden Press.

Nurkolis. 2002. Pendidikan Sebagai . Investasi Jangka Panjang. bttp : //artikel.us/ nurkolis5.html

Simanjuntak, Payaman J. 1985. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Teguh Yudo Wicaksono. 2004. Besarkah Manfaat Pendidikan Tinggi terhadap Pembangunan Ekonomi ? bttp : //www.csis,or.id

Tobing, Elwin. 2005. Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi. http : //www. theindonesianinstitute.ore/janeducfile.htm

Todaro, Michael P. 2000. Economic Development. Seventh Edition. Longman

Warsito Jati. 2002. Indonesia Krisis Sumber Daya Manusia. EDENTS No. 6/XXVI/  2002, Semarang. Him : 7 – 9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s