MAKALAH PEMBELAJARAN AKTIF

TUGAS MATA KULIAH PENGEMBANGAN KURIKULUM

PEMBELAJARAN AKTIF

Oleh :

HABIBI      11510035

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

 PROGRAM PASCASARJANA (S2)

IKIP PGRI SEMARANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Sampai saat ini, para penggiat pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkan metode-metode dan model-model pembelajaran yang baik dan efektif untuk dapat  membantu guru dalam menyampaikan ilmu-imunya kepada siswanya. Pengembangan ini telah dilakukan sejak dulu hingga sekarang secara kontinyu dan terus menerus, mengikuti perkembangan teknologi dan juga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan.

Pendidikan pada saat ini juga telah berada pada era penjaminan mutu. Mutu pendidikan harus dijamin dan dipertahankan serta ditingkatkan secara berkelanjutan. Kunci utama terjaminnya mutu pendidkan adalah proses pembelajaran.  Pendidikan akan menghasilkan keluaran (output dan outcome) yang bermutu bila proses pembelajarannya bermutu. Proses pembelajaran yang bermutu dapat dilaksanakan dalam berbagai pendekatan. Pendekatan pembelajaran yang diyakini sebagai efektif dan efisien saat ini adalah pendekatan pembelajaran aktif.

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian di atas untuk memperjelas tentang pendekatan pembelajaran yang  diyakini sebagai efektif dan efisien penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian pembelajaran aktif?
  2. Alasan-alasan penerapan pembelajaran aktif di sekolah.
  3. Apa keuntungan-keuntungan dari pembelajaran aktif
  4. Apa prinsip-prinsip pembelajaran aktif
  5. Bagaimana strategi pembelajaran aktif
  6. Apa nama-nama pembelajaran aktif
  7. Bagaimana model-model dan Rancangan pembelajaran aktif
  8. TUJUAN PENULISAN

Tujuan penulisan  makalah ini adalah untuk mengetahui dan mendalami berbagai hal terkait dengan pembelajran aktif dan rancangan pembelajarannya serta untuk memenuhi tugas mata kuliah pengembangan kurikulum dan sistem pembelajaran.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN AKTIF

Menurut A.Y. Soegeng Ysh (2012)  Pengertian pembelajaran aktif adalah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang melibatkan para pelajar dalam melakukan suatu hal dan memikirkan apa yang sedang mereka lakukan. Pembelajaran aktif itu diturunkan dari dua asumsi dasar yaitu (1) bahwa belajar pada dasarnya adalah proses yang aktif, dan (2) bahwa orang yang berbeda, belajar dalam cara yang berbeda pula. Sementara menurut pembelajaran PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis berpendapat  pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun siswa dengan pengajar dalam proses pembelajaran tersebut.

Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

  • Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pengajar melainkan pada pengembangan ketrampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas,
  • Siswa/Mahasiswa tidak hanya mendengarkan kuliah secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pembelajaran /kuliah,
  • Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi pembelajaran/kuliah,
  • Siswa/Mahasiswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan evaluasi,
  • Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.

Di samping karakteristik tersebut di atas, secara umum suatu proses pembelajaran aktif memungkinkan diperolehnya beberapa hal. Pertama, interaksi yang timbul selama proses pembelajaran akan menimbulkan positive interdependence dimana konsolidasi pengetahuan yang dipelajari hanya dapat diperoleh secara bersama-sama melalui eksplorasi aktif dalam belajar. Kedua, setiap individu harus terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pengajar harus dapat mendapatkan penilaian untuk setiap mahasiswa sehingga terdapat individual accountability. Ketiga, proses pembelajaran aktif ini agar dapat berjalan dengan efektif diperlukan tingkat kerjasama yang tinggi sehingga akan memupuk social skills.

Dengan demikian kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sehingga penguasaan materi juga meningkat. Suatu studi yang dilakukan Thomas (1972) menunjukkan bahwa setelah 10 menit kuliah, siswa/mahasiswa cenderung akan kehilangan konsentrasinya untuk mendengar kuliah yang diberikan oleh pengajar secara pasif. Hal ini tentu saja akan makin membuat pembelajaran tidak efektif jika kuliah terus dilanjutkan tanpa upaya-upaya untuk memperbaikinya. Dengan menggunakan cara-cara pembelajaran aktif hal tersebut dapat dihindari. Pemindahan peran pada siswa/mahasiswa untuk aktif belajar dapat mengurangi kebosanan ini bahkan bisa menimbulkan minat belajar yang besar pada siswa/mahasiswa. Pada akhirnya hal ini akan membuat proses pembelajaran mencapai learning outcomes yang diinginkan.

  1. ALASAN-ALASAN PENERAPAN  DAN KEUNTUNGAN PEMBE-LAJARAN AKTIF DI SEKOLAH

Ada beberapa alasan menggunakan pembelajaran aktif yaitu:(1) memiliki pengaruh yang kuat pada pembelajaran si belajar,(2) strategi-strategi pengembangan pembelajaran aktif lebih mampu meningkatkan ketrampilan berfikir para pelajar daripada peningkatan penguasaan isi,(3) melibatkan para pelajar dalam tugas-tugas berpikir tingkat lebih tinggi  seperti analisis, sintesis dan evaluasi, dan (4) berbagai gaya belajar dapat dilayani dengan sebaik-baiknya dengan melibatkan para pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajar aktif.

Sedangkan penggunaan pembelajaran aktif juga membawa beberapa keuntungan, yaitu: (1) para pelajar yang aktif menggunakan pengetahuan utama mereka dalam membentuk pemahaman dari isi materi pembelajaran, (2) para pelajar yang aktif berfikir secara kritis dan menciptakan pengembangan mereka sendiri, (3) para pelajar yang aktif terlibat secara kognitif, dan (4) para pelajar yang akatif menerapkan suatu strategi membaca dan belajar lingkup yang luas.

  1. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN AKTIF

Berdasarkan ALIS atau Active Learning in school yaitu pembelajaran aktif yang dilaksanakan di sekolah-sekolah untuk para siswa yang hakikat inti dan isi kurang lebih dengan CBSA, prinsip-prinsip pembelajaran aktifnya sebagai berikut:

  1. Prinsip melakukan, yang dalam CBSA disebut belajar sambil bekerja, pada dasarnya pembelajaran itu harus membuat peserta didik berbuat sesuatu, bukan tinggal diam, berpangku tangan. Perbuatan itu dapat berupa; melihat, mendengar, meraba, merasakan, menulis, mengukur, membaca, menggambar, menghitung yang pada dasarnya sama dengan ketrampilan proses.
  2. Prinsip menggunakan semua alat indera (pancaindera), bahwa dalam pembelajaran hendaknya mengaktifkan semua alat indera untuk memperoleh informasi atau pengetahuan, melalui melihat, mendengar, meraba, mengecap dan membau. Dengan mengerahkan semua semua indera(sejauh memungkinkan) peserta didik akan memperoleh pengetahuan atau informasi yang lebih mengesankan, bukan sekedar hafalan, dan tidak mudah untukdilupakan.
  3. Prinsip eksplorasi lingkungan, bahwa pembelajaran aktif memanfaatkan lingkungan sebagai sarana, media dan/atau sumber belajar. Lingkungan itu dapat berupa lingkungan fisik, lingkungan social, lingkungan budaya, dan juga lingkungan mental. Lingkungan itu dapat berupa obyek (benda-benda), tempat (situasi dan kondisi), kejadian atau peristiwa dan idea tau gagasan.
  4. STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF

Pembelajaran aktif sebagai suatu model memiliki strategi, siasat, atau kiat-kiat untuk mencapai tujuannya. Strategi itu antara lain sebagai berikut:

  1. Terpusat pada siswa (student centered), sebagai upaya meninggalkan dan menghindari strategi lama yang telah mapan, yaitu pembelajaran yang terpusat pada guru, atau lebih tepat bila disebut pembelajaran yang dodominasi oleh guru (teacher centered), bahkan terpusat pada lembaga, demi kepentingan lembaga atau sekolah atau penyelenggara pendidikan (institution centered).
  2. Terkait dengan kehidupan nyata artinya apa yang dipelajari itu harus dapat dimanfaatkan dalam kehidupan nyata di masyarakat, untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, bersifat fungsional, kontekstual.
  3. Diferensiasi artinya memberikan layanan yang berbeda untuk anak yang memiliki kemampuan berbeda, tidak menyamaratakan, memperlakukan sama untuk anak-anak yang berbeda atau bersifat klasikal semata; tetapi juga bukan member perlakuan berbeda untuk anak yang memiliki bakat dan kemampuan yang sama (tidak membeda-bedakan atau diskriminasi); dalam hal ini termasuk memperhatikan perbedaan gender, karena pada dasarnya kodrat wanita tidak sama dengan pria.
  4. Menjadikan lingkungan sebagai media dan/atau sumber belajar, dengan demikian menjadi fungsional. Lingkungan menjadi media pembelajaran mana kala lingkungan itu berfungsi sebagai menghantarkan pesan-pesan, sebagai pengantara, penyalur pesan, yang mampu merangsang: pikiran, perasaan, perhatian, dan keinginan; sedangkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran bilamana lingkungan itu sendiri sebagai hal yang sedang dipelajari. Misalnya, seorang guru agama ingin menyampaikan pesan tentang keagungan Tuhan dengan mengajak para siswa untuk menghayati dahsyatnya letusan gunung berapi sebagai alam ciptaanNya, dengan demikian lingkungan alam itu sebagai media pemebalajaran. Tetapi ketika guru mengajarkan geografi dengan membawa siswa ke gunung yang meletus untuk memperlajari berbagai jenis batuan; lingkungan itu menjadi sumber pembelajaran.
  5. Mengembangkan berpikir tingkat tinggi, dengan mengaktifkan siswa melakukan analisis, menyimpulkan, dan mengevaluasi hal-hal yang sedang dipelajari; bukan sekedar diberitahu, mendengarkan ceritanya, kemudian menghafal.
  6. Memberikan umpan balik, misalnya guru member tanggapan atas permasalahan siswa, mengembalikan hasil ulangan/ujian kepada siswa bahkan mengevaluasi dan memberikan solusi serta tindak lanjut. Itulah yang dimaksud dengan pendidikan yang demokratis, terbuka, dan libertarian, bukan liberalism.
  1. NAMA, DAN TEKNIK  PEMBELAJARAN AKTIF

Ada banyak nama dan teknik pembelajaran aktif dari mulai yang sederhana yang tidak memerlukan persiapan lama dan rumit serta dapat dilaksanakan relatif dengan mudah – sampai dengan yang rumit – yaitu yang memerlukan persiapan lama dan pelaksanaan cukup rumit. Beberapa jenis teknik pembelajaran tersebut antara lain adalah:

1.         Think-Pair-Share

Dengan cara ini mahasiswa diberi pertanyaan atau soal untuk dipikirkan sendiri kurang lebih 2-5 menit (think), kemudian mahasiswa diminta untuk mendiskusikan jawaban atau pendapatnya dengan teman yang duduk di sebelahnya (pair). Setelah itu pengajar dapat menunjuk satu atau lebih mahasiswa untuk menyampaikan pendapatnya atas pertanyaan atau soal itu bagi seluruh kelas (share)

Teknik ini dapat dilakukan setelah menyelesaikan pembahasan satu topik, misalkan setelah 10-20 menit kuliah biasa. Setelah selesai kemudian dilanjutkan dengan membahas topik berikutnya untuk kemudian dilakukan cara ini kembali setelah topik tersebut selesai dijelaskan.

2.        Collaborative Learning Groups

Dibentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 mahasiswa yang dapat bersifat tetap sepanjang semester atau bersifat jangka pendek untuk satu pertemuan kuliah. Untuk setiap kelompok dibentuk ketua kelompok dan penulis. Kelompok diberikan tugas untuk dibahas bersama dimana seringkali tugas ini berupa pekerjaan rumah yang diberikan sebelum kuliah dimulai. Tugas yang diberikan kemudian harus diselesaikan bisa dalam bentuk makalah maupun catatan singkat.

3.      Student-led Review Session

Jika teknik ini digunakan, peran pengajar diberikan kepada mahasiswa. Pengajar hanya bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator.

Teknik ini misalkan dapat digunakan pada sesi review terhadap materi kuliah. Pada bagian pertama dari kuliah kelompok-kelompok kecil mahasiswa diminta untuk mediskusikan hal-hal yang dianggap belum dipahami dari materi tersebut dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mahasiswa yang lain menjawabnya. Kegiatan kelompok dapat juga dilakukan dalam bentuk salah satu mahasiswa dalam kelompok tersebut memberikan ilustrasi bagaimana suatu rumus atau metode digunakan. Kemudian pada bagian kedua kegiatan ini dilakukan untuk seluruh kelas. Proses ini dipimpin oleh mahasiswa dan pengajar lebih berperan untuk mengklarifikasi hal-hal yang menjadi bahasan dalam proses pembelajaran tersebut.

4.     Student Debate

Diskusi dalam bentuk debat dilakukan dengan memberikan suatu isu yang sedapat mungkin kontroversial sehingga akan terjadi pendapat-pendapat yang berbeda dari mahasiswa. Dalam mengemukakan pendapat mahasiswa dituntut untuk menggunakan argumentasi yang kuat yang bersumber pada materi-materi kelas. Pengajar harus dapat mengarahkan debat ini pada inti materi kuliah yang ingin dicapai pemahamannya.

  1. Exam questions writting

Untuk mengetahui apakah mahasiswa sudah menguasai materi kuliah tidak hanya diperoleh dengan memberikan ujian atau tes. Meminta setiap mahasiswa untuk membuat soal ujian atau tes yang baik dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa mencerna materi kuliah yang telah diberikan sebelumnya. Pengajar secara langsung bisa membahas dan memberi komentar atas beberapa soal yang dibuat oleh mahasiswa di depan kelas dan/atau memberikan umpan balik kemudian.

  1.  Class Research Symposium

Cara pembelajaran aktif jenis ini bisa diberikan untuk sebuah tugas perancangan atau proyek kelas yang cukup besar. Tugas atau proyek kelas ini diberikan mungkin pada awal kuliah dan mahasiswa mengerjakannya dalam waktu yang cukup panjang termasuk kemungkinan untuk mengumpulkan data atau melakukan pengukuran-pengukuran. Kemudian pada saatnya dilakukan simposium atau seminar kelas dengan tata cara simposium atau seminar yang biasa dilakukan pada kelompok ilmiah.

  1. Analyze Case Studies

Model seperti ini banyak diberikan pada kuliah-kuliah bisnis. Dengan cara ini pengajar memberikan suatu studi kasus yang dapat diberikan sebelum kuliah atau pada saat kuliah. Selama proses pembelajaran, kasus ini dibahas setelah terlebih dahulu mahasiswa mempelajarinya. Sebagai contoh dapat diberikan suatu studi kasus produk rancangan engineering yang ternyata gagal atau salah, kemudian mahasiswa diminta untuk membahas apa kesalahannya, mengapa sampai terjadi dan bagaimana seharusnya perbaikan rancangan dilakukan.

  1. MODEL-MODEL DAN RANCANGAN PEMBELAJARAN AKTIF

Ada banyak model dalam melaksanakan Pembelajaran Aktif, yang dapat diterapkan baik disekolah-sekolah (ALIS) maupun diperguruan tinggi (ALFHE atau ALIHE) yaitu: experimental learning, pembelajaran terpadu, pembelajaran kooperatif, metode studi kasus, simulasi, bermain peran, tutor sebaya, kerja lapangan, belajar mandiri, tugas perpustakaan, dan computer-aided instruction (CAI) serta lesson study. Dari banyak model tersebut, berikut ini dipaparkan beberapa diantaranya.

  1. Pembelajaran Terpadu

Dalam Pembelajaran Terpadu batas-batas mata pelajaran diminimalkan atau bahkan dihilangkan sama sekali (integrated curriculum). Sebagai pengikat atau pemadu matapelajaran-matapelajaran adalah tema, fokus, pusat minat, atau konsep yang bermakna. Yang dijadikan rujukan adalah psikologi Gestalt, dalam hal mana keseluruhan lebih dari sekedar jumlah bagian-bagiannya. Misalnya, konsep “rumah” memiliki arti atau makna lebih dari sekedar lantaim tiang, pintu, jendela, dan atap yang dikumpulkan. Teori belajar yang diacu adalah teori perkembangan, yaitu teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget; teori tingkat perkembangan dari Kohlberg. Pembelajaran Terpadu menolak system drilling, suatu latihan menghafal tanpa makna.

Ciri-ciri atau karakteristik dari Pembelajaran Terpadu adalah: terpusat pada siswa (student centered), siswa menjadi subyek berperan dominan, memberikan pengalaman langsung/nyata/kongkret, tanpa batas-batas yang tegas/kaku, memadukan berbagai konsep menjadi lebih bermakna, sesuai minat dan kebutuhan siswa, bersifat fungsional, belajar sambil melakukan, dan bersifat menyenangkan. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud “menyenangkan” adalah menjadikan senang dalam belajar, bukan belajar bersenang-senang, dan tidak selalu berupa menyanyi atau berjoged. Juga perlu dicatat bahwa tidak semua matapelajaran dapat dipadukan. Dalam Pembelajaran Terpadu dimungkinkan terjadinya penggabungan lintas semester.

Ada beberapa model terpadu dengan skema pembagian beserta penjelasan ringkasnya sebagai berikut (Forgaty.1991.How To Integrate The Curricula. Dalam Decentralized Basic Education 2-USAID: 62-74)

  1. Satu disiplin ilmu (Within single discipline) atau intradisiplin

a)      Fragmented (Terpecah)

b)      Connected (Terkait)

c)      Nested (Terkumpul)

  1. Lintas disiplin ilmu (across several disciplines) atau interdisiplin/multidisiplin

a)      Sequence (Urutan)

b)      Shared (Irisan)

c)      Webbed (Tematik)

d)     Threaded (Rangkaian)

e)      Integrated (Terpadu)

  1. Dalam lintas pembelajar (within and across learners)

a)      Immersed (Terbenam)

b)      Network (Jaringan)

a)      Fragmanted (terpecah), digambarkan sebagai “periscope”, satu petunjuk; satu sudut pandang; fokus pada satu disiplin. Disiplin ilmu di  mana setiap bagian merupakan area bahasan terpisah. Misalnya, Guru menerapkan pandangan ini pada matapelajaran Matematika, Sains, Ilmu Sosial, Sastera/Bahasa, Kemanusiaan, Kesenian, dan Keterampilan.

b)      Connected (terkait), gambaran dari “opera glass”, banyak detail dalam satu disiplin; fokus pada subjudul dan antarhubungan. Dalam tiap matapelajarn/kuliah isi pelajarn dihubungkan antara satu topic dengan topic yang lain, satu konsep dengan konsep lain, berurutan waktu dan menghubungkan beberapa ide secara eksplisit. Misalnya, Guru menghubungkan konsep pembagian dalam decimal dan kemudia menghubungkannya dengan uang dan tingkatan. Model terkait merupakan model terpadu yang paling sederhana, pada dasarnya telah diterapkan pembelajaran tanpa disadari, tidak terencana dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus.

c)      Nested (terkumpul), digambarkan sebagai “kacamata tiga dimensi”, memiliki beberapa cara pandang mengenai seuatu bagian, topic, atau unit. Pada setiap area bahasan guru memiliki beberapa target keterampilan yang harus dicapai, misalnya: materi khusus (content specific skill). Misalnya, Guru membuat desain mengenai fotosintesis untuk mendapatkan target secara bersamaan mengenai: mendapatkan kesepakatan (keterampilan sosial), tahapan (kemampuan berpikir), siklus kehidupan tumbuhan (muatan ilmu).

d)     Sequenced (urutan), digambarkan sebagai “kacamata”, variasi internal yang dikerangkai oleh konsep yang luas dan saling berhubungan. Topik-topik atau unit-unit dari bidang kajian diatur kembali dan siurutkan agar sesuai satu dengan uang lain. Ide-ide yang mirip diajarkan bersamaan. Sambil pada saat yang sama merupakan mata pelajaran yang berbeda. Misalnya, Guru Bahasa Inggris menyajikan novel secara historis pada masa tertentu ketika Guru sejarah mengajarkan periode sejarah yang sama.

e)      Shared (Irisan), digambarkan sebagai “binocular”, dua bagian yang saling tumpang tindih dalam konsep dan keterampilan. Berbagai perencanaan dan pengajaran pada dua disiplin ilmu yang memiliki konsep dan ide yang tumpang tindih yang dipisahkan sebagai elemen pengatur. Misalnya, Guru Matematika dan Sains, menggunakan kumpulan data, grafik, dan chart sebagai konsep yang dapat dianggap sebagai satu kesatuan.

f)       Webbed (tematik), digambarkan sebagai “teleskop”, menghubungkan dua atau lebih bidang ilmu melalui tema atau topic. Tema atau topic merupakan pusat minat yang dikembangkan dari berbagai sudut pandang konsep atau prinsip dari masing-masing bidang ilmu yang dipadukan. Matapelajaran menggunakan tema untuk membahas konsep, topic, ide yang cocok. Misalnya, Guru membuat sebuah tema sederhana, misalnya lingkungan dan membuat jaringannya ke dalam matapelajaran.

g)      Threaded (rangkaian), digambarkan sebagai “kaca pembesar”, ide besar yang dapat menvakup seluruh hal melalui pendekatan metakurikuler. Pendekatan metakulikuler menjadikan keperampilan berpikir, keperampilan social, kecerdasan ganda, teknologi, dan keterampilan belajar melalui disiplin ilmu yang beragam, tetapi tetap dalam satu kesatuan. Misalnya, Guru memiliki target prediksi dalam membaca, matematika, dan percobaan percobaan sains, sementara guru ilmu social memiliki target prediksi situasi saat ini, dan mengaitkan keterampilan pada disiplin ilmu yang lain.

h)      Integratetd (terpadu),  digambarkan sebagai “kaleidoskop”, pola dan desain baru yang menggunakan unsur-unsur dasar tiap disiplin. Pendekatan interdisipliner ini mencocokan matapelajaran yang topic dan konsepnya tumpang tindih dengan kelompok pengajaran tertentu dalam suatu model integrasi yang otentik. Misalnya, dalam pelajaran Matematika, IPA, IPS, Seni Rupa, Bahasa dan Keterampilan, guru mencari model yang berpola terpadu dan memahami isi melalui pola tersebut.

i)        Immersed (terbenam), digambarkan sebagai “mikroskop”, pandangan personal yang mendalam memberikan penjelasan yang rinci seperti semua isi tersaring melalui minat dan keahlian. Disiplin menjadi bagian dari pandangan belajar tentang keahlian; belajar menyaring semua isi dari melalui lensa ini dan menjadi bagian dalam pengalamannya. Misalnya, siswa atau calon doctor memiliki minta pada bidang keahlian dan melihat semua belajar melalui sudut pandang ini.

j)        Networked (jaringan), digambarkan sebagai “prisma”, sebuah sudut pandang yang menciptakan fokus yang berdimensi dan berarah jamak. Pembelajar menyaring semua pelajaran melalui sudut pandang ahli dan membuat hubungan internal yang mengarah pada jaringan ahli eksternal dalam bidang-bidang yang berhubungan. Misalnya, Arsitek ketika menggunakan teknologi CAD dan CAM untuk mendesain, membuat jaringan dengan progamer teknik dan memperluas pengetahuannya seperti biasa dia lakukan dengan desainer interior.

Terdapat empat langkah atau tahapan penting dalam model pembelajaran terpadu. Tahap-tahap itu adalah sebagai berikut.

1)      Tahap pencair suasana, guru mengajak para siswa melakukan kegiatan yang menyenangkan, biasannya dalam bentuk permainan, agar siswa merasa santai, senang, segar, dan antusias serta termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran.

2)      Pada tahap pemberian pengalaman, guru memberikan materi pembelajaran, pengalaman langsung kepada para siswa yang mampu mengaktifkan pikiran, emosi, dan fisik.

3)      Pada tahap refleksi, para siswa bersama guru merangkum materi pembelajaran, dapat melalui penugasan atau Tanya jawab. Setelah itu siswa dengan bimbingan guru dan menarik kesimpulan, member makna dari hal-hal yang telah dipelajarai untuk kemudian dapat diterapkan dalam praktik kehidupan.

4)      Pada tahap aplikasi, guru membimbing para siswa untuk menerapkan hal-hal yang telah disimpulkan dan diberi makna tersebut diatas.

b)      Pembelajaran Kooperatif

Yang dimaksud dengan Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) adalah belajar bersama untuk mencapai tujuan bersama dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Dengan demikian, keberhasilan belajar dari kelompok ini tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik kemampuan dan aktivitas individual maupun secara kelompok.

Cooperative Learning tidak identik dengan “belajar kelompok”. Cooperative Learning lebih bersifat “belajar bersama-sama”. Dalam pembelajaran kooperatif ada struktur kerja sama, terjadi interaksi antara individu yang bersifat interdependensi (saling ketergantungan); bukan sekedar bersama-sama belajar (holobis kuntul baris) atau bergotong-royong yang tanpa interaksi antara individu. Dalam pembelajaran kooperatif tujuan individu dapat terpenuhi bersamaan dengan terpenuhinnya tujuan bersama (getting better together; menjadi lebih baik secara bersama-sama). Dengan menjadi lebih baik secara bersama-sama, menjadi lebih baik pula diri sendiri (Solihatin dan Raharjo, 2007: 4-6)

Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah Model Jigzaw. Jigzaw dapat berarti gergaji atau puzzle (teka-teki), yaitu gambar yang dipotong-potong secara acak yang harus disusun kembali bentuk semula sebelum dipotong-potong. Berikut ini garis besar langkah-langkah pembelajaran model jigsaw (DBE-2 –USAID,:19).

1)      Peserta didik dikelompokan dalam kelompok kecil yang heterogen., yang disebut “Kelompok Awal”, yang jumlahnya disesuaikan dengan banyaknya materi pembelajaran. Masing-masing anggota Kelompok Awal ditugasi mempelajari materi tertentu, bagian/penggalan materi yang dipelajari, yang berbeda-beda.

2)      Dibentuk “Kelompok Ahli”, yang terdiri dari para anggota Kelompok Awal yang bertugas mempelajari penggalan materi yang sama. Kelompok Ahli ini bertugas mendalami materi dengan bantuan expert sheet (lembar ahli) atau panduan diskusi.

3)      Setelah mendalami materi dalam Kelompok Ahli, masing-masing kembali ke Kelompok Awal untuk menjelaskan hasil pendalaman materi maing-masing hingga terjadi pemahaman seluruh materi secara utuh dan mendalam.

4)      Selanjutnya, Guru memberikan kuis yang mencangkup seluruh materi dan memberikan penilaian serta member penghargaan.

c)      Lesson Study

Lesson Study bukan metode ataupun pendekatan, melainkan model pembelajaran, sebagai pelatihan untuk meningkatkan profesionalitas guru/dosen dan mutu pembelajran secara berkelanjutan (terus-menerus). Lesson Study berasal dari Jepang, dengan nama jugyokenkyu. Kata-kata kunci dalam Lesson Study adalah: pembinaan profesi, pengkajian proses pembelajaran, kolaboratif, kolegialitas, komunitas belajar, mutual learning, dan berkelanjutan. Pada dasarnya yang dimaksud dengan Lesson Study adalah model pembelajaran aktif, dengan tiga langkah besar: plan (merencanakan), do (melaksanakan), dan see (melihat kembali).

Berikut ini penjelasan singkatnya :

1)      Plan, adalah kegiatan merencanakan proses pembelajaran, dengan membuat suatu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP disusun oleh Dosen Model bersama para anggotannya (beberapa orang). Mereka menyusun RPP melalui diskusi untuk menetapkan pokok bahasan, keluasan dan kedalaman materi, metode, media, dan prasarana serta sarana yang diperlukan. Dalam menyusun/mendiskusikan RPP disaksikan oleh para Pengamat (beberapa orang) dan Tim Monev In (Monitoring dan Evaluasi Internal). Adapun monitor dari luar (Dikti) biasannya hanya hadir pada kegiatan Do dan See.

2)      Do, adalah pelaksanaan pembelajaran, yang dilaksanakan oleh Dosen Model, disaksikan para anggota, dan Pengamat, serta Tim Monev (internal dan/atau eksternal). Dalam melaksanakan proses pembelajaran ini Dosen Model dapat memilih model pembelajaran tertentu , antara lain dapat menggunakan model jigsaw sebagaimana yang telah dipaparkan di muka.

3)      See, adalah proses melihat kembali apa yang telah dilaksanakan dalam do, yang dipimpin oleh seorang Moderator; dimulai dengan refleksi oleh Dosen Model, kemudian dilengkapi oleh para Dosen Anggota, dan ditanggapi, dikritisi, serta diberi masukan/saran oleh para Pengamat. Berdasar pada tanggapan, kritikm dan saran tersebut, Dosen Model bersama para anggotannya menyusun RPP berikutnya dengan berbagai perbaikan dan pengembangan. Dengan demikian proses pembelajaran diharapkan makin bermutu secara meningkat. Dalam See, dihadiri pula oleh Tim Monev dari dalam maupun luar, namun Tim Monev dari dalam biasannya tidak boleh memberi komentar.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bab pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pembelajaran aktif adalah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang melibatkan para pelajar dalam melakukan sesuatu hal dan memikirkan tentang apa yang sedang mereka lakukan.
  2. Pembelajaran aktif diturunkan dari dua asumsi dasar yaitu bahwa belajar pada dasarnya suatu proses yang aktif dan bahwa orang yang berbeda, belajar dalam cara-cara yang berbeda pula.
  3. Ada beberapa alasan menggunakan pembelajaran aktif yaitu ; memiliki pengaruh yang kuat pada pembelajaran si belajar; strategi-strategi pengembangan pembelajaran aktif lebih mampu meningkatkan ketrampilan berfikir para pelajar dari pada peningkatan penguasaan isi; melibatkan para pelajar dalam tugas-tugas berfikir tingkat lebih tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi; berbagai gaya belajar dapat dilayani dengan sebaik-baiknya dengan melibatkan para pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajar aktif.
  4. Penggunaan pembelajaran aktif membawa beberapa keuntungan seperti; para pelajar yang aktif menggunakan pengetahuan utama mereka dalam membentuk pemahaman dari isi materi pembelajaran; para pelajar yang aktif berfikir secara kritis dan menciptakan pengembangan mereka sendiri; para pelajar yang aktif  terlibat secara kognitif; dan para pelajar yang aktif menerapkan suatu strategi membaca dan belajar lingkup yang luas.
  5. SARAN
    1. Pembelajaran aktif dengan berbagai kelebihan yang dimiliki hendaknya dapat diterapkan di sekolah.
    2. Guru diharapkan memahami betul tentang pembelajaran aktif sebelum menerapkannya dalam proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Soegeng Ysh., A.Y. 2012, Pengembangan Sistem Pembelajaran, Semarang, IKIP PGRI Semarang Press.

izaskia.files.wordpress.com/2010/03/makalahactivelearning.doc diunduh 28 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s